KALTIMPOST.ID, LOS ANGELES – Timnas Iran menghadapi situasi tidak biasa pada laga perdana mereka di Piala Dunia 2026. Setelah sebelumnya harus memindahkan base camp latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, Team Melli kembali mendapat tekanan saat menjalani pertandingan pertama.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Iran menghadapi Selandia Baru di SoFi Stadium, Inglewood, Los Angeles, Amerika Serikat, Selasa (16/6).
Saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan sebelum pertandingan, suara boo terdengar menggema di seluruh stadion. Sorakan itu bukan berasal dari pendukung lawan ataupun warga lokal Amerika Serikat, melainkan dari sebagian diaspora Iran yang hadir di tribun.
Baca Juga: Harga Makanan hingga Transport Naik, Inflasi Balikpapan Mulai Menguat
Los Angeles memang menjadi salah satu kota dengan populasi diaspora Iran terbesar di dunia. Banyak di antara mereka merupakan keturunan warga yang meninggalkan Iran setelah Revolusi Iran pada 1979.
Sebagian dari kelompok diaspora tersebut masih menunjukkan penolakan terhadap pemerintahan yang saat ini berkuasa di negara asal mereka.
“Saya mendukung budaya Persia, warisan, dan sejarah kami. Namun, saya tidak mendukung rezim saat ini, mengingat apa yang telah mereka lakukan kepada negara saya,” ujar seorang diaspora Iran di Los Angeles, Keyan Jafari.
Meski mendapat tekanan sejak sebelum pertandingan dimulai, Iran mampu menunjukkan mental yang kuat di atas lapangan.
Dua kali tertinggal, Team Melli tetap berhasil memaksakan hasil imbang 2-2 atas Selandia Baru.
Baca Juga: Aman untuk Mesin, Pemerintah Siap Terapkan BBM dari Minyak Sawit Mulai 1 Juli
Selandia Baru membuka keunggulan lebih dulu melalui gol Elijah Just pada menit ketujuh. Iran kemudian menyamakan kedudukan lewat Ramin Rezaeian pada menit ke-32.
Memasuki babak kedua, Elijah Just kembali membawa Selandia Baru unggul melalui gol keduanya pada menit ke-55. Namun Iran tidak menyerah. Gol Mohammad Mohebi pada menit ke-64 memastikan laga berakhir dengan skor 2-2.
Hasil tersebut menjadi modal penting bagi Iran untuk menjaga peluang lolos ke fase berikutnya, sekaligus menunjukkan ketangguhan mereka di tengah berbagai tekanan yang mengiringi perjalanan di Piala Dunia 2026. (*)
Editor : Ery Supriyadi