SAMARINDA - Dampak perubahan iklim kian dirasakan masyarakat. Hal ini salah satunya imbas pemanasan global karena penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan. Diperlukan pemahaman pentingnya transisi energi untuk keberlanjutan.
Isu ini diangkat AJI Samarinda bersama Yayasan Mitra Hijau, dalam pelatihan kepada jurnalis di Samarinda di Hotel Horison Samarinda, Jumat (8/3).
Salah seorang narasumber, Dicky Edwin Hindarto selaku Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau menyampaikan bahwa kebutuhan energi terus naik, seiring pertumbuhan penduduk. Sementara emisi gas rumah kaca itu yang paling tinggi dari sektor energi.
Dalam jangka 20 tahun meningkat tiga kali lipat. “Tak dimungkiri, PDRB Kaltim bergantung pada batu bara. Pada 2022, 44 persen PDRB Kaltim berasal dari sektor batu bara. Namun, permintaan produksi batu bara diprediksi turun sesuai dengan komitmen dunia untuk mengurangi penggunaan energi fosil,” ucapnya.
Dia menerangkan, transisi energi harus dimulai, dari masyarakat yang lebih dulu harus disiapkan dengan kemampuan baru. Termasuk menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Di Bumi Etam, sejumlah pembangkit listrik terbarukan yang potensial dikembangkan seperti pembangkit listrik tenaga surya, bioenergi, pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL), hingga pumped hydro energy storage (PHES).
“Meski begitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Misalnya, paparan sinar matahari pada pembangkit listrik tenaga surya, atau soal ketinggian permukaan air tampungan pada pembangkit listrik PHES,” terangnya.
Dia menekankan isu soal transisi energi ini perlu mendapat perhatian. Sebab, kini arahnya harus transisi energi yang ramah lingkungan. Pentingnya media untuk membawa narasi transisi energi ini. Bebas, apakah dengan angle sentimen negatif atau positif, tapi tujuannya agar terus menjadi perbincangan.
Agar isu transisi energi menarik perhatian, salah satu caranya adalah dengan membuat liputan mendalam. Jadi, tulisan dinikmati dan isu transisi energi bisa disajikan secara komprehensif.
Sementara itu, narasumber lain, jurnalis Harian Kompas Sucipto memberikan tips untuk liputan mendalam. Bahwa liputan mendalam memang jadi tantangan tersendiri. Tentu lebih menguras energi dan waktu dibandingkan menulis straight news.
“Ide penulisan bisa datang dari informasi atau riset data terlebih dahulu. Bisa dengan membaca soal tulisan atau penelitian yang sudah ada. Lalu menentukan angle berita atau sudut pandang berita. Apa yang bisa menjadi pertanyaan dan daya tarik untuk menjadi sebuah berita,” ujarnya.
Sebagai informasi, pelatihan tersebut diikuti sekitar 25 jurnalis dari multiplatform yang bekerja di wilayah Samarinda. (kri/k16)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Sukri Sikki