Buntutnya kehidupan mereka jauh dari kata cukup dibandingkan ketika masih berjualan di Pasar Pagi. Satu persatu persoalan mulai datang. Bang mulai menagih kredit, sementara kemampuan membayar berkurang Karena omset menurun drastis.
“Kalau bisa pemerintah juga kunjungan ke pasar (Sungai Dama atau SGS). Biar tahu bagaimana kondisi di sini. Dulu awalnya kan kami ingin di relokasi menjadi satu titik, tidak di pencar seperti ini. Karena apa? Karena ada pembeli kosmetik atau baju yang terkadang mereka juga sekaligus membeli ayam, sayuran dan lain-lain. Kalau sekarang kan enggak ada begitu,” kata Erna (41), eks pedagang Pasar Pagi yang kini berpindah ke pasar Sungai Dama.
Jujur, Erna melanjutkan, setelah relokasi ini dilakukan, dirinya mengaku tidak bisa membayar cicilan di bank. Emak-emak lima anak ini tahu risiko yang akan dihadapi bagaimana. Namun, Erna hanya bisa pasrah jika konsekuensi tersebut terjadi.
“Anak saya sampai nangis, mas. Karena saat orang bank datang ke rumah, dia bilang mau menyita rumah saya. Saya hanya pasrah. Karena kenyataannya memang begitu. Mau gimana lagi. Katanya rumah saya mau dikasih plang, saya persilahkan karena memang sudah risiko,” tuturnya.
Nah, jika masih berjualan di Pasar Pagi, Erna optimistis bisa membayar cicilan tersebut. Sebab, ada perbedaan ketika berjualan di Pasar Pagi dengan titik relokasi di Pasar Sungai Dama.
“Saya kalau jualan di Pasar Pagi insyaallah bisa membayar cicilan mas. Karena alhamdulillah ada aja rejeki di sana. Kalau di sini jam 10 pagi sudah sepi. Jadi kadang-kadang saya berjualan sampai sore, mas, siapa tau ada yang beli,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie