KALTIMPOST.ID, Setelah direlokasi sementara, eks pedagang Pasar Pagi keluhkan omzet menurun dikarenakan kehilangan pelanggan. Keluhan tersebut datang atas sepinya pembeli semenjak 6 bulan pindah dari Pasar Pagi sebelumnya.
“Korban kebijakan pedagang ini. Makanya saya dari semula meminta relokasi yang strategis agar tidak berdampak ke sosial dan ekonomi pedagang, sekarang terbukti kan," ucap Toriq Hakim, ketua Forum Pedagang Pasar Pagi, Minggu (4/8).
Selain itu, kata dia, sebelum pindah di Segiri Grosir Samarinda (SGS) pemerintah pernah menjanjikan akan membuat tempat parkir khusus di bagian belakang pasar tersebut. Namun hingga saat ini tak kunjung dilaksanakan. Padahal, sambung dia, di SGS sebenarnya ramai pembeli jika lapangan parkir tersedia.
Baca Juga: Polisi Kubar Pembawa Sabu Divonis Ringan, JPU Pastikan Banding
“Baru jam 9-10 pagi parkiran di sini (SGS) sudah penuh, mas, itu penuh kendaraan pedagang. Bagaimana pembeli mau datang kalau parkirannya penuh. Seandainya parkirannya luas ramai itu di SGS,” sambungnya.
Kekhawatiran para eks pedagang Pasar Pagi sebelum relokasi pedagang dilakukan, perlahan-lahan mulai dirasakan. Beberapa pedagang terancam gulung tikar, memilih jalan lain dalam hal ini tidak berjualan, juga ada kabar seorang pedagang di Sungai Damai yang dihantui cicilan Bank.
“Jadi Andi Harun ini hanya janji aja sama kami. Mana ini tanggung jawab pemerintah terkait lapangan parkir di bagian belakang SGS. Ternyata benar kan, apa yang kami khawatirkan benar terjadi,” tuturnya.
Jujur, sambung Toriq, untuk memenuhi kebutuhan hidup, dirinya saat ini tak mengandalkan hasil pendapatan lewat jualan di SGS. Melainkan ada pekerjaan lain. Namun, pihaknya juga memikirkan bagaimana nasib para pedagang yang lain.
“Bayangkan mas. Dalam waktu satu hari paling tidak kami dapat Rp 150-200 ribu, itu diluar untung. Beruntungnya saya tidak punya cicilan bank, bagaimana kalau ada yang cicilan bank dengan jumlah pendapatan segitu,” terangnya.
Pada dasarnya eks pedagang Pasar Pagi sangat mendukung untuk merevitalisasi pasar tua tersebut. Hanya satu yang belum direstui saat itu, titik relokasi yang tidak dijadikan satu titik. Nah, para pedagang kini berharap kepada pemerintah untuk bisa memberikan subsidi.
“Subsidi apa saja. Misalnya seperti yang punya cicilan bank, pemerintah bisa berkoordinasi ke pihak bank selama eks pedagang Pasar Pagi belum pindah di tempat asalnya, maka cicilan tersebut di stop. Nanti disambung kalau sudah dipindah,” tukasnya.
Editor : Uways Alqadrie