Di Pulau Jawa, stable sudah banyak dan jadi hal umum. Rumah Ulin Arya (RUA), salah satu destinasi yang juga memelihara kuda ikut ambil bagian. Mulanya fun riding, pengalaman dan memberikan sensasi menunggang kuda. Kini, berkembang menjadi edukasi dan memasukkan kurikulum atau teori.
“Jadi benar-benar dipelajari karena ada kurikulumnya, kita datangkan trainer dari Jakarta. Atlit dan juga anggota Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi). Trial class bulan lalu, ternyata antusias tinggi. Yang daftar lumayan banyak, tapi sayang slot kita terbatas. Hanya ada 6 slot atau 6 peserta saja. Dan banyak dikomplain, soalnya memang seantusias itu,” beber Direktur Operasional RUA Sheila Achmad.
Kelas percobaan untuk melihat bagaimana kesiapan seluruh komponen mulai paddock, trainer, sampai kuda itu sendiri. Slot yang terbatas dan tingginya antusias, membuat Sheila akhirnya membuka kelas untuk umum pada batch 1, 13-15 September.
“Per hari itu kita siapkan 6-8 slot, lihat situasi cuaca juga. Jadi hanya bisa dilakukan pagi maksimal jam 10 sama setelah jam 3 sore. Soalnya kan lapangan terbuka. Dan ini juga sudah full slotnya karena benar-benar terbatas,” lanjut dia.
Ada enam kuda yang dimiliki RUA, namun hanya empat yang masuk kualifikasi sebagai kuda yang cocok untuk olahraga. Dua lainnya diperuntukkan untuk fun riding. Satu sesi per orang 45 menit. Sudah termasuk teori sesuai kurikulum, pengenalan alat-alat dan praktik.
“Harganya lumayan untuk kelas single atau satu sesi, Rp 350 ribu. Kita juga ada paket member, 8 kali pertemuan Rp 2,4 juta. Dan ternyata lumayan yang daftar. Dari sini kan bisa terlihat, bahwa peminatnya ada. Bisa dibilang kita juga yang pertama di Samarinda, sebelumnya memang sempat ada tapi terbatas dan bukan buat umum. Jadi first riding horse school yang publik ya kita,” ujarnya.
Menariknya, sebagian besar pendaftar adalah pemula alias belum pernah sama sekali menunggangi kuda. Dan mereka sudah berani mengambil paket member. “Kan menarik ya. Bahkan sudah lunas. Pada berani ambil member, ya setinggi itu minatnya,” lanjut Sheila.
Berkuda bukan hal baru, namun selalu membuat penasaran. Di Balikpapan, sedikitnya sudah ada 5 stable yang menyediakan kelas serupa. Itu juga yang menjadi alasan Sheila agar Samarinda jangan sampai ketinggalan. Terbukti dari minat masyarakat yang ternyata juga tinggi.
Peserta termuda adalah anak-anak usia 7 tahun. Sisanya adalah anak muda dengan rentang usia di bawah 30 tahun. Tidak ada batasan maksimal usia, hanya berat badan yakni 80 kilogram. “Sejauh ini hanya ada dua yang laki-laki, sisanya ada beberapa belas orang itu perempuan,” kata dia.
Sheila juga menyebut jika tidak menutup kemungkinan ada potensi-potensi yang jika diseriusi akan melahirkan atlit baru. Sebab diajarkan sesuai tahap, mulai dari walk (berjalan), trot (lari kecil), canter (lari di antara trot dan gallop), hingga gallop (lari kencang). Batch II juga telah disiapkan. Sembari menyelesaikan sesi pada batch I yang diperkirakan hingga Oktober.
Editor : Uways Alqadrie