Sekolah Dasar (SD) 013 yang terletak di Jalan Sukerejo, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, dalam proses belajar mengajar, masih terganggu dari perubahan cuaca.
Hujan deras yang mengakibatkan banjir lumpur terjadi beberapa waktu lalu, membuat sarana dan sebagian bahan ajar siswa diduga kuat tidak dapat dipakai.
Melihat kondisi tersebut, Akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Rab'ul Habibi menilai dampak banjir lumpur tersebut bisa mempengaruhi dua aspek penting dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pertama aspek akademis. Terlebih, sebagai guru tentu memiliki tantangan mengajar yang sulit bila proses belajar mengajar fakultatif. Sebab, Habibi melanjutkan, satu mata pelajaran memiliki tenggat waktu pencapaian hasil pembelajaran.
"Dengan begitu, siswa bisa ketinggalan dalam proses belajar. Apalagi materi yang diajarkan tarafnya cukup sulit, dan harus diselesaikan dengan waktu singkat," ucapnya, Sabtu (5/10).
Kemudian aspek keterampilan sosial. Dalam konteks ini, lanjut dia, siswa dapat meningkatkan aspek tersebut melalui hubungan dengan teman sebaya di lingkungan sekolah. Setidaknya aspek tersebut dapat meningkatkan kreatifitas peserta didik.
"Namun, jika diliburkan atau fakultatif saat banjir melanda, perkembangan sosial akan terhambat," imbuhnya.
Habibi menilai, pihak terkait dalam hal ini kepala sekolah serta stakeholder bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Khawatirnya, dampak banjir yang terjadi secara berulang itu memunculkan masalah terhadap peserta didik.
"Semua bersinergi. Siswa harus bisa belajar kembali di kelas, namun tidak terganggu dengan kondisi atau situasi ketika cuaca berubah. Begitu pun sebaliknya, guru bisa lebih aktif dalam memberikan pembelajaran ketika metode fakultatif diberlakukan," tukasnya mengakhiri. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post
Editor : Almasrifah