Berbagai kendala, mulai dari akses terbatas hingga kendala waktu bagi masyarakat yang bekerja, membuat banyak orang terhalang menempuh pendidikan tinggi. Lalu, bagaimana mengatasinya?
Dalam seminar bertema Ukir Masa Depan Berkualitas, Maju Bersama UT yang berlangsung di Convention Hall Samarinda, Sabtu (2/10), Rektor Universitas Terbuka (UT), Prof Ojat Darojat, menyampaikan gagasan inspiratif.
Ia mengungkapkan, ada tiga tantangan besar yang harus dihadapi: pemerataan akses pendidikan tinggi terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T); akses bagi masyarakat yang sudah bekerja; serta peluang bagi lulusan SMA atau kejuruan yang seringkali tersisih dalam seleksi perguruan tinggi konvensional.
"Maka, pada tahun 1984, Universitas Terbuka hadir untuk mengatasi tantangan ini," ujar Prof. Ojat.
Dengan komitmen menyediakan akses yang merata, UT menjadi solusi bagi banyak orang yang sebelumnya terhalang dari pendidikan tinggi.
Di tengah luasnya wilayah Indonesia dan kesibukan sehari-hari, sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT menjadi jawaban praktis.
Melalui metode ini, para mahasiswa bisa belajar tanpa harus hadir secara fisik di kampus. Mereka bisa memanfaatkan berbagai media—baik cetak seperti modul, maupun digital melalui audio, video, internet, bahkan siaran televisi dan radio.
“Misalnya, para pekerja seperti guru, staf pemerintah, atau pegawai swasta tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari sembari mengejar pendidikan tinggi di UT,” jelas Prof Ojat.
Menyambung pernyataan Prof Ojat, Direktur UT Samarinda Rusna Ristasa Agusta menambahkan, di antara 4.423 perguruan tinggi di Indonesia, hanya sekitar 3 persen yang terakreditasi A, dan UT adalah salah satunya.
"Ini adalah sebuah kebanggaan bahwa UT sebagai perguruan tinggi berbadan hukum telah diakui kualitasnya," kata Rusna.
Prestasi UT terus berkembang. Dalam empat tahun terakhir, UT mencetak 12 Rekor MURI, termasuk pencapaian luar biasa di seleksi CPNS 2019, di mana lulusan UT menjadi yang terbanyak diterima dibanding perguruan tinggi lainnya.
“Inilah bukti kualitas UT, sejalan dengan tema seminar hari ini," pungkasnya.
UT bukan hanya perguruan tinggi; ia adalah jembatan yang menghubungkan impian dan realitas, membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan lagi hal yang eksklusif, tapi hak yang dapat diraih semua orang. (*)
Editor : Almasrifah