Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Banjir Juga Melanda Bengkuring Raya, Ribuan Warga Samarinda Terdampak

Eko Pralistio • Selasa, 28 Januari 2025 | 17:46 WIB
PEMICU: Banjir yang melanda permukiman Jalan Bengkuring Raya dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang sebelumnya juga merendam Desa Budaya Pampang.
PEMICU: Banjir yang melanda permukiman Jalan Bengkuring Raya dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang sebelumnya juga merendam Desa Budaya Pampang.

KALTIMPOST.ID, — Banjir yang melanda Desa Budaya Pampang diikuti meningkatnya debit air pada Bendungan Benanga di Kelurahan Lempake, memicu genangan baru di wilayah Jalan Bengkuring Raya, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso mengatakan, Selasa (28/1) pagi pihaknya beserta operator teknis meninjau Bendungan di kawasan Kelurahan Lempake. Hasilnya debit air semakin tinggi, yakni mencapai 8,07 Mdpl, yang mana ketinggian tersebut berkategori siaga.

“Hal itu berpotensi air turun menuju ke daerah yang sedikit rendah seperti di kawasan Betapus, Bengkuring, Perumahan Griya Mukti, dan Jalan Pemuda,” ujarnya.

Sementara itu, kata dia, sejak malam (27/1) sekitar pukul 19.00 Wita di kawasan Bengkuring dilaporkan air mulai masuk dan menggenangi beberapa wilayah. Kemudian pada Selasa (28/1) terjadi kenaikan air.

“Dari pantauan di lapangan ketinggian banjir mencapai 1,2 meter sementara terendah mencapai 30 sentimeter. Saat ini warga masih berada di rumah masing-masing, dan ada juga yang mengungsi ke rumah keluarganya,” jelasnya.

BPBD Samarinda menyiapkan posko induk di halaman kantor Kelurahan Sempaja Timur, sebagai dapur umum dan tempat evakuasi bagi warga yang terdampak banjir. Rencananya, ucap Swarso, makanan didistribusikan sebanyak dua kali kepada warga sesuai data yang diperoleh di lapangan.

“Totalnya ada 22 RT yang terdampak. Itu terdiri dari 856 kepala keluarga dan 2.203 jiwa, serta jumlah rumah warga sebanyak 820 hunian. Data tersebut diperbarui sekitar pukul 14.00 Wita,” tuturnya.

Swarso menambahkan, banjir yang terjadi di Desa Budaya Pampang dan kemudian menjalar ke area Hilir, disebabkan hujan dengan intensitas tinggi. Itu berawal dari hujan yang mengguyur di area Bandara APT Pranoto (115 milimeter), kawasan Eks Bandara Temindung (75 milimeter), dengan durasi yang cukup lama dimulai sekira pukul 07.00 Wita hingga sore.

“Juga termasuk air laut terjadi pasang kurang lebih 2,5 meter dan ini akan berlaku sampai empat hari ke depan,” imbuh Swarso.

Foto udara wilayah Jalan Bengkuring Raya, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara yang terendam banjir.
Foto udara wilayah Jalan Bengkuring Raya, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara yang terendam banjir.

Pihaknya menegaskan bahwa banjir yang terjadi dipicu luapan air dari kawasan Hulu yang informasinya terjadi hujan. Kemudian air tersebut meluap dan mengarah ke Bendungan Benangan Lempake, yang mana aliran tersebut nantinya akan menuju wilayah permukiman warga di Samarinda.

“Jadi, kontribusi air dari daerah Muara Badak Mekar melalui sungai siring masuk ke Bendungan Benangan Lempake menjadi sumber genangan air yang terjadi. Sehingga genangan ini bukan hanya berasal dari kota Samarinda, melainkan dari daerah sekitarnya,” ucapnya.

Menurut Swarso, beberapa warga melaporkan bahwa keluarga mereka yang berada di rumah dalam keadaan sakit. Tim di lapangan pun sudah mengevakuasi dan diantar ke Puskesmas terdekat.

“Termasuk anak-anak kecil yang sudah kita evakuasi ke tempat yang lebih aman. Saat ini tim terus melakukan pemantauan lebih lanjut, karena kondisi hujan diperkirakan akan kembali terjadi di sore harinya,” tukasnya.

Terpisah, Putri Novita, warga setempat, mengaku banjir yang melanda tempat tinggalnya sudah pernah terjadi pada 2021 silam. Selepas itu, kawasan tersebut hanya terjadi genangan air yang masih bisa dilewati warga.

“Namun untuk saat ini warga tidak bisa beraktivitas. Karena ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. Sehingga warga menunggu di dalam rumah, menjaga anak kecil, orang tua, atau keluarga,” singkatnya.

 

EKO PRALISTIO

Editor : Muhammad Ridhuan
#banjir #Desa Budaya Pampang #samarinda #bpbd