Peristiwa ini menenggelamkan puluhan RT. Membuat lebih dari 2.000 kepala keluarga tak bisa beraktivitas normal. Namun, keluarga Bustami memutuskan untuk bertahan.
Di rumah panggung yang ia bangun sendiri, pria berusia 52 tahun itu tinggal bersama istri dan dua anaknya. Meski rumah panggung dirancang agar tidak menempel langsung pada tanah, tetap saja banjir menyisakan dampak.
“Meski fondasi dibuat pancang atau panggung, tapi kalau banjir tetap terdampak,” jelas Bustami saat ditemui Kaltim Post, Selasa (4/2) siang.
Banjir ini memang bukan datang tanpa tanda. Bustami dan warga sekitar sudah tahu, jika Desa Budaya Pampang terendam air, maka air akan turun ke waduk Benanga.
Jika bendungan itu dibuka, banjir pasti akan sampai ke Bengkuring. Tampaknya Bustami sudah hapal dengan siklus ini, tapi tetap saja, menghadapi banjir selalu membawa rasa cemas.
“Mudah kalau memperkirakan. Tolak ukurnya ada di Desa Budaya Pampang. Kalau di sana banjir, kemudian turun ke waduk Benanga dan bendungan dibuka, maka air akan menuju ke wilayah kami,” imbuhnya.
Dulu, sebut dia, empat tahun lalu, bencana banjir pernah terjadi dengan ketinggian mencapai dada orang dewasa. Hampir sebulan air tak kunjung surut. Kini, meski masih tinggi, setidaknya hanya bertahan seminggu.
“Bahkan banjir yang terjadi waktu itu sampai 20 hari, nyaris sebulan lamanya. Ada perbedaan dengan sekarang yakni sekitar satu minggu,” tuturnya.
Di kawasan Jalan Terong Pipit, sejumlah bangunan rumah beton diberi spanduk yang bertuliskan “rumah dijual”. Beberapa tetangga Bustami tampak menyerah, memilih pindah ke tempat yang lebih aman. Tapi Bustami tak ingin meninggalkan rumah yang telah ia bangun dengan susah payah.
“Pun kalau ada yang beli, harganya pasti turun drastis. Lebih baik sabar dan mempersiapkan diri sebelum banjir datang,” imbuh Bustami. Itulah yang dilakukan Bustami setiap kali air mulai menggenangi permukiman warga Bengkuring.
Motor dan barang elektronik segera dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Surat-surat berharga disimpan dalam pelastik rapat. Bahkan, di dalam rumahnya, Bustami sudah menyiapkan kamar kecil yang lebih tinggi dari lantai utama.
“Di RT 37 ini ada rumah warga yang juga terdampak tapi tidak sampai masuk di rumahnya. Sebab, pondasi rumah sudah ditinggikan. Sehingga kalau banjir terjadi kami tidur di sana,” ungkapnya kepada wartawan ini.
“Sebagai antisipasi, ada kamar kecil dibangun sekitar setengah meter dari lantai dasar yang berukuran 2 x 3 meter. Itu untuk beristirahat saja, karena kalau ikut di rumah orang walaupun tetangga sendiri, juga enggak enak dengan mereka,” tuturnya.
Bukan hanya rumah yang terendam. Banjir yang terjadi juga mengganggu aktivitas Bustami dalam menyambung hidup. Sehari-hari, Bustami berjualan pentol, berkeliling dengan motor yang dilengkapi rombong. Tapi saat banjir datang, dia hanya bisa berdiam diri di rumah.
“Nah, kalau banjir ya hanya bisa berdiam. Saya yakin rezeki itu ada aja. Waktu genangan mulai masuk ke halaman rumah, motor sudah saya keluarkan. Tapi untuk mengolah daging menjadi pentol tentu tidak bisa, makannya hanya bisa fokus di dalam rumah sembari menunggu bantuan,” kata dia.
Ketika ditemui Kaltim Post, pria berlogat suku Banjar ini sedang membersihkan motor dan rombong yang dikotori oleh lumpur. Dia sempat menceritakan bahwa ke depan Bengkuring tidak akan diterjang banjir tinggi lagi.
“Itu jika folder di kawasan ini sudah selsai. Seingat saya di belakang Jalan Terong Pipit ada sebuah folder yang dibangun pemerintah. Termasuk turap aliran sungai atau parit besar di sini juga sudah dibenahi. Mungkin kalau itu dilanjutkan genangan masih ada tapi berkurang, atau surutnya lebih cepat,” bebernya.
Pada bagian lain, Bustami menilai bahwa Samarinda pada dasarnya memang ditakdirkan akan dilanda banjir. Secara spiritual, menurut dia, tuhan sudah memberikan gambaran bahwa kota ini dikelilingi bukit tinggi. Tak hanya itu, keberadaan kayu ulin pun menjadi objek penilian pria tersebut.
Kenapa kayu ulin di Kaltim ini sangat banyak? ucap dia, karena memang mungkin tuhan memerintahkan kepada manusia di Samarinda untuk membangun rumah panggung. Bukan untuk menguruk rawa yang memang sudah terbentuk secara alam.
“Semakin kita mengabaikan permukaan rawa yang dibangun rumah dengan cara diuruk tanah, maka, kita juga mengabaikan pembuangan airnya. Kayu ulin ada banyak di kota ini merupakan sebagai tanda, kita harus hidup selaras dengan alam dengan membangun rumah panggung,” tegasnya.
Sayangnya, kini banyak yang menguruk rawa untuk membangun rumah. Saluran air tertutup, dan akhirnya ketika hujan deras datang, banjir pun tak terelakkan. Bustami menambahkan, hanya satu yang bisa dilakukan saat ini.
Membuat saluran air yang baik. Meninnggikan bangunan rumah termasuk akses jalan keluar menuju perkotaan. Dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Dengan begitu, kita bisa mengendalikan banjir. Kalau menghilangkan banjir saya rasa itu sangat tidak mungkin. Karena apa? Karena banyak kawasan rawa yang dibangun rumah dengan cara diuruk tanah, tanpa memikirkan pembuangan air. Sehingga, ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, genangan meluap dan terjadi banjir,” pungkasnya.
Pada bagian lain, banjir yang melanda warga Bengkuring juga menyerang fasilitas pendidikan dasar di sana. Salah satu sekolah yang paling terdampak adalah SD O24 Samarinda Utara. Itupun satu-satunya sekolah dasar negeri yang berada di wilayah permukiman perumahan Bengkuring.
Kepala SD 024 Samarinda Utara, Leang mengatakan bahwa selama satu minggu banjir terjadi, porses pembelajaran di sekolah diliburkan, dan diganti dengan metode daring atau pemantauan dari tenaga pendidik secara jarak jauh.
“Semua kelas terdampak. Termasuk ruang tata usaha, dan ruangan saya,” ucap Leang.
Dari 28 kelas dengan jumlah total 830 siswa, sebanyak 16 kelas yang paling lama digenangi air.
Sebab, kata Leang, kelas-kelas tersebut belum ditinggikan bangunannya. Sementara yang lain, genangan air berangsur surut pada Minggu (2/2) lalu.
“Sehingga kemarin kita melakukan gotong royong dengan warga sekitar juga untuk membersihkan kelas-kelas yang terdampak,” tuturnya. Leang menambahkan, pada Selasa (4/2) proses pembelajaran di SD 024 sudah berjalan normal.
Dari laporan yang diterima, kata Leang, untuk sementara ini tidak ada siswa yang berhalangan dikarenakan sakit akibat banjir. Namun beberapa siswa datang tanpa seragam.
“Namun, ada beberapa siswa yang hadir mengenakan pakaian rumah dikarenakan bajunya masih basah atau belum dicuci oleh orang tuannya. Tapi kami tetap membolehkan, karena kan memang keadaan kemarin banjir jadi tidak bisa disalahkan,” tegasnya.
Meski aktivitas sekolah mulai pulih, dampak banjir masih terasa. Kursi dan meja banyak yang rusak, lemari penyimpanan ikut terendam air, dan beberapa buku pelajaran basah. Semu aitu sudah dilaporkan pihak terkait.
“Termasuk lurah juga katanya akan membantu dan diusulkan di Musrembang. Bantuan itu belum diketahui tapi sepertinya berkaitan dengan meja, kursi, atau meninggikan bangunan di beberapa kelas yang cukup lama dan tinggi saat digenangi banjir,” tukasnya. (*)
Editor : Almasrifah