Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Setahun setelah Relokasi: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Temukan Penyebab Omzet Terus Menurun

Eko Pralistio • Kamis, 20 Februari 2025 | 18:49 WIB

OMZET: Ada faktor baru di sektor pedagang konveksi dalam penurunan omzet.
OMZET: Ada faktor baru di sektor pedagang konveksi dalam penurunan omzet.
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Pedagang yang direlokasi sejak tahun lalu masih menjadi perbincangan hangat. Ada faktor penting di balik penurunan omzet pendapatan para pedagang Pasar Pagi Samarinda.

Sejumlah pedagang mulai menghitung ulang pendapatan mereka, membandingkan perbedaan yang terjadi, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Lebaran.

Jufriansyah adalah satu dari sekian banyak pedagang konveksi yang terpaksa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Dia memilih menyewa kios di Mall Mesra Indah, bukan karena menolak rekomendasi pemerintah, tetapi karena pertimbangan bisnis yang menurutnya lebih menguntungkan.

"Ada perbedaan pendapatan antara Segiri Grosir Samarinda dan Mesra. Di Segiri, penjualan konveksi terbilang turun. Kalau di sana, omzet yang biasanya saya dapatkan dalam sebulan, di Mall Mesra bisa diperoleh hanya dalam seminggu," ungkapnya, Kamis (20/2).

Namun, memasuki tahun kedua setelah relokasi, Jufriansyah mulai merasakan dampak yang tidak dia prediksi sebelumnya. Jika tahun lalu omzetnya masih stabil, tahun ini penurunannya terasa signifikan.

"Itu tahun pertama (2024). Masih normal kalau dibandingkan dengan 2023. Tapi di 2025 ini ada perbedaan yang cukup besar," katanya.

Pada Januari 2025, ia mencatat penurunan omzet sekitar 30% dibandingkan Januari tahun sebelumnya. Meski begitu, ia belum bisa memastikan apakah faktor lain turut berpengaruh selain relokasi pasar.

"Semoga ada perubahan saat bulan puasa hingga Lebaran. Biasanya, kalau ramai sebelum Ramadhan, di bulan puasanya cenderung sepi, dan begitu juga sebaliknya," ujarnya dengan nada penuh harap.

Bagi Jufriansyah, relokasi ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi juga membawa pelajaran penting bagi pedagang konveksi sepertinya.

Salah satu hal yang menurutnya menjadi kendala adalah pencampuran antara pedagang eceran dan grosir dalam satu area.

"Saat relokasi dilakukan, saya sadar bahwa pedagang konveksi eceran dan grosir tidak bisa disatukan begitu saja. Ini bisa memengaruhi pola jual beli," katanya.

Ia menjelaskan bahwa pedagang grosir menjual barang dalam jumlah besar dengan harga lebih murah, sedangkan pedagang eceran menjual barang satuan dengan harga yang lebih tinggi.

Jika keduanya berada dalam satu tempat, pembeli tentu akan lebih memilih harga grosir, yang akhirnya mematikan usaha pedagang eceran.

"Kalau dicampur, ada ketimpangan dalam usaha. Ini bisa jadi pembelajaran. Sebelum Pasar Pagi resmi beroperasi kembali, sebaiknya ini menjadi perhatian agar tidak ada persaingan usaha yang tidak sehat," tuturnya.

Meski masih ada tantangan, Jufriansyah tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam mempercepat revitalisasi Pasar Pagi.

Ia dan pedagang lainnya mendengar bahwa nantinya pedagang akan ditempatkan sesuai klaster masing-masing.

"Itu ide yang bagus. Bisa memudahkan pedagang dan pembeli. Saya tidak keberatan, bahkan mendukung sepenuhnya," ujarnya.

Namun, ia berharap agar pemerintah juga mempertimbangkan pemisahan antara pedagang eceran dan grosir. Menurutnya, ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha kedua pihak.

"Selain klasterisasi, fasilitas, dan kenyamanan, pemerintah juga perlu memisahkan pedagang eceran dan grosir. Ini penting agar tidak terjadi persaingan usaha yang tidak sehat," pungkasnya. (*)

Editor : Almasrifah
#Segiri Grosir Samarinda #omzet #pasar pagi #pedagang #samarinda