KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Setelah empat hari digenangi air, banjir yang melanda kawasan Perumahan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara, mulai surut secara signifikan. Aktivitas warga perlahan kembali pulih seiring menurunnya tinggi genangan.
Pantauan terakhir pada Jumat 16 Mei 2025, ketinggian air di sejumlah titik tinggal berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter. Warga pun mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitar, menandai fase pemulihan pasca banjir yang sempat merendam kawasan ini hingga satu meter.
Selama masa banjir, Bengkuring menjadi salah satu titik terdampak paling parah di Samarinda. Perahu karet dan kapal evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta sejumlah instansi lain sempat disiagakan untuk mengevakuasi warga, namun kini telah ditarik karena situasi dinilai sudah terkendali.
Lurah Sempaja Timur, Yuliana, menyampaikan bahwa pihaknya sejak awal terus memantau kondisi banjir dan memastikan kebutuhan warga terpenuhi. Ia membenarkan bahwa situasi saat ini sudah jauh membaik.
“Sebagian besar wilayah sudah kering. Hanya beberapa titik yang masih tergenang tipis. Aktivitas warga mulai normal, namun kami tetap imbau untuk waspada karena cuaca belum stabil,” ujarnya, Jumat (16/5).
Menurut data kelurahan yang dihimpun, lanjut dia, banjir kali ini berdampak pada 22 rukun tetangga. Total sebanyak 2.524 jiwa dari 756 kepala keluarga terdampak, dengan 753 unit rumah sempat terendam air.
Pada bagian lain, Yuliana pun memberikan apresiasi kepada BPBD, relawan, serta organisasi masyarakat yang turut membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan selama masa tanggap darurat. Meski genangan telah surut, sambung dia, ancaman cuaca ekstrem masih menjadi perhatian utama.
“Kami tetap siaga. Hujan deras masih mungkin turun sewaktu-waktu. Koordinasi dengan BPBD dan petugas lapangan tetap kami jaga,” katanya.
Dia menyerukan harapan warga Bengkuring untuk lepas dari stigma sebagai kawasan “langganan banjir”. Menurutnya, perlu kerja sama yang konsisten antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya pencegahan maupun penanganan.
“Cap langganan banjir itu menyakitkan bagi warga. Harapan kami, ada langkah nyata yang terus ditingkatkan, mulai dari perbaikan drainase, normalisasi sungai, hingga edukasi mitigasi bencana,” pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto