Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Merawat Ingatan dan Identitas Dayak dalam Momen Ramai Aju di Desa Budaya Pampang, Wujud Syukur Memberkahi Bumi dalam Pesta Panen

Eko Pralistio • Senin, 23 Juni 2025 | 15:11 WIB
TERUS DIRAWAT: Gelak tawa anak-anak diiringi musik khas, serta pakaian adat yang menyatu dengan udara segar perbukitan, menjadi penanda Pampang sedang menggelar acara. (RAMA SIHOTANG/KP)
TERUS DIRAWAT: Gelak tawa anak-anak diiringi musik khas, serta pakaian adat yang menyatu dengan udara segar perbukitan, menjadi penanda Pampang sedang menggelar acara. (RAMA SIHOTANG/KP)

 

Suasana riuh terdengar sejak pagi menyelimuti Desa Budaya Pampang, yang terletak di bagian Samarinda Utara. 

KALTIMPOST.ID, GELAK tawa anak-anak, denting alat musik tradisional, serta pakaian adat yang menyatu dengan udara perbukitan, menjadi penanda Desa Budaya Pampang sedang menggelar acara.

Itu bukan pesta biasa. Disebut Ramai Aju, perayaan oleh masyarakat Dayak di Pampang yang dimaknai sebagai pesta panen. 

2Baca Juga: Lika-Liku Pembuatan Film Manthara, Terkendala Izin Tayang hingga Pemeran yang Kelelahan

Sebuah wujud syukur kepada alam dan leluhur yang telah memberkahi hasil bumi. Tahun ini, perayaan Ramai Aju sekaligus menandai usia Desa Budaya Pampang yang genap 52 tahun.

"Agenda seperti ini sudah 50 tahun dilaksanakan. Tapi tahun ini agak menurun sedikit dibanding tahun lalu, mungkin karena cuaca," ujar Kepala Adat Desa Budaya Pampang, Asron Palam. 

Tiga hari penuh, sejak 19–22 Juni 2025, warga Pampang menyuguhkan beragam pertunjukan budaya.

Tari-tarian, upacara adat, musik tradisional hingga atraksi yang menghadirkan kekayaan warisan Dayak tampil di depan mata pengunjung dari berbagai penjuru. 

Bukan sekadar tontonan, itu adalah pengingat bahwa ada akar sejarah yang masih tumbuh kuat di tanah Kalimantan.

Desa Budaya Pampang tak lahir begitu saja. Buah dari perjalanan panjang dan berat sekelompok masyarakat Dayak yang memilih tetap dalam pelukan Tanah Air.

Pada era 1960-an, warga Dayak Apokayan dan Kenyah yang sebelumnya menetap di wilayah Kutai Barat dan Malinau menghadapi pilihan sulit. 

Mereka ditawari untuk bergabung dengan wilayah Malaysia yang kala itu menjanjikan penghidupan lebih baik. Tapi bagi mereka, tanah Kalimantan bagian Indonesia adalah rumah sejati.

Rasa nasionalisme itu yang membuat mereka bertahan. Mereka menempuh perjalanan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya dengan berjalan kaki, menyusuri hutan dan lembah. 

Sembari berpindah-pindah, mereka hidup dari hasil ladang, membuka lahan di mana mereka singgah, sampai akhirnya menetap di Pampang.

Di desa baru (Pampang), mereka membangun kembali kehidupan. Menanam nilai-nilai kebersamaan, saling membantu, merayakan hari-hari besar bersama, termasuk Natal dan panen raya. 

Dari tanah itu identitas mereka tumbuh kembali, dan lewat Ramai Aju, mereka menegaskan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk terus dihidupkan.

Bagi sebagian besar wisatawan, budaya Dayak kerap hanya terlihat di brosur-brosur promosi atau gambar di bandara. Namun, di Pampang, semuanya menjadi nyata. 

Wisatawan bisa menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Dayak menjaga budayanya, yakni dari ukiran khas rumah panjang, pakaian tradisional yang penuh makna, hingga ritual yang syarat nilai.

"Ramai Aju ini tidak sekadar syukuran panen. Kita berharap saling memiliki kebersamaan dalam kesatuan di dalam bermasyarakat," pungkas Asron Palam. 

 

Editor : Dwi Restu A
#desa budaya #wisatawan #pampang #samarinda