KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Dugaan kasus pelecehan seksual mengguncang kegiatan kepramukaan di salah satu sekolah di Samarinda.
Seorang pembina pramuka diduga melakukan pelecehan terhadap empat remaja perempuan berusia sekitar 19 tahun, yang semuanya merupakan alumni dari sekolah tersebut dan sedang membantu kegiatan perkemahan.
Kejadian itu terjadi pada Jumat (13/6) lalu, saat para korban diminta hadir di sekolah sekitar pukul 02.00 Wita, membantu kegiatan kepramukaan.
Total ada enam orang yang dipanggil oknum pembina pramuka, terdiri dua laki-laki dan empat perempuan. Setibanya di sekolah, mereka dikumpulkan di musala.
Menurut Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kaltim, Rina Zainun, para korban mengaku sempat memasak mie dan menyeduh kopi di musala sebelum kegiatan dimulai.
Namun, pembina pramuka itu kemudian menyinggung hal-hal mistis dan mengatakan bahwa memasak makanan di waktu seperti itu bisa mengundang mahluk tak kasatmata.
Setelah itu, lanjut dia, pembina tersebut meminta para remaja untuk berbaring dan memejamkan mata, seolah sedang melakukan semacam hipnotis.
“Korban diminta mengikuti kata-katanya, seperti ‘pejamkan mata, masuk lebih dalam ke alam bawah sadar," ujar Rina menirukam perkataan terduga pelaku kepada empat remaja itu.
Korban pertama dituntun ke arah mimbar musala. Ketika sampai, lampu musala dimatikan. Di sisi itu dugaan pelecehan dimulai.
Oknum pembina itu meminta korban berbaring terlentang, lalu mencium bagian atas bibir korban dan meraba area payudara meski korban masih berpakaian. Ia juga diduga duduk di atas tubuh korban.
Tak sampai di situ, tangan korban diarahkan ke bagian vital pelaku. "Ketika korban bertanya, 'Kak, ngapain, pelaku menjawab, kamu sadar kah. Dan korban menjawab, sadar," imbuh Rina.
Menyadari korban dalam kondisi sadar, pembina itu menghentikan aksinya dan membawa korban kembali ke tempat semula.
Tak lama kemudian, korban kedua menjadi target. Saat itu, dia mengalami kram kaki dan masih berbaring di lantai musala.
Oknum pembina meminta tiga korban lainnya mengelilingi korban kedua. Setelah itu, korban pertama muntah dan menolak saat ditawari “pengobatan” oleh pembina. Tawarannya sama seperti apa yang dilakukan pertama tadi.
Korban kedua lalu dituntun ke sebuah gudang kosong yang gelap. Di sana, korban diminta berbaring di atas spanduk, memejamkan mata, dan menyilangkan tangan. Pintu gudang kemudian ditutup. Dugaan pelecehan kembali terjadi.
Korban kedua sempat membuka mata dan bertanya. “Kak, ngapain, tapi pembina itu justru menanyakan kembali, apa yang dirasakan. Korban menjawab, saya sadar, Kak. Saat itu pembina mencium jidatnya sebelum mengakhiri aksinya.
Sekitar pukul 04.30 Wita, korban ketiga dipanggil.
Dia diajak berkeliling sekolah oleh pembina tersebut, yang menyebut tubuh korban memiliki aura negatif.
Sama seperti korban sebelumnya, saat melintas sebuah ruang kelas baru, lampu di ruangan itu menyala tiba-tiba. Mereka sempat masuk, lalu keluar dan menuju pos parkiran.
Di sana, korban ketiga diminta duduk dan memejamkan mata. Dia mengaku kemudian dicium di dekat bibirnya. Saat hendak berteriak, pelaku mencegahnya dengan alasan tidak ingin mengganggu adik-adik pramuka yang lain.
Korban ketiga sempat dibawa ke gudang, tempat di mana korban kedua sempat diarahkan ke sana.
Namun, saat pelaku membuka celana, korban ketiga langsung lari keluar. Dia kemudian dituntun kembali ke musala dan diminta bersiap salat karena azan berkumandang.
Pukul 05.30 Wita, korban keempat dipanggil dengan dalih serupa, untuk dinetralisir dari aura negatif. Namun, korban langsung menolak, sehingga pelecehan tidak sempat terjadi.
Menurut Rina, pengakuan korban ketiga bahwa korban ketiga pernah mengalami kejadian ganjil serupa saat masih menjadi siswa.
Dalam kegiatan kemah sebelumnya, korban pernah disuruh minum teh pahit oleh pelaku karena disebut sedang diikuti mahluk halus.
Korban kemudian dibawa ke area rerumputan dekat pohon besar, lalu ditepuk kakinya hingga tidak sadarkan diri. Saat sadar, wajahnya lengket disertai aroma tak sedap.
"Dia (oknum pembina) bahkan sempat bertanya kepada korban, kamu sadar kah habis ngapain. Korban bingung karena kondisi matanya sulit terbuka, dan memang korban tidak ingat," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, TRC PPA Kaltim bersama keluarga korban telah melaporkan ke aparat penegak hukum, dengan harapan kasus itu bisa diusut tuntas.
Namun, pihak keluarga yang membuat laporan justru dianggap masih minim alat bukti, sehingga laporan tak diterima.
Editor : Dwi Restu A