KALTIMPOST.ID-Program sekolah rakyat (SR) tahap pertama yang digagas pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) menjadi harapan baru bagi banyak keluarga kurang mampu di Samarinda.
Meski sempat diliputi keraguan, sejumlah orangtua akhirnya mantap melepas anak-anak mereka untuk mengikuti pendidikan gratis berasrama itu.
Salah satunya warga Kelurahan Sidodamai, Samarinda Ilir, Yana Guci Setiani Rachim, mengaku sempat bimbang saat ditawari kesempatan menyekolahkan anaknya ke SR.
Apalagi, itu adalah angkatan pertama. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari pendamping sosial dan melihat sistem asrama yang ditawarkan, ia berubah pikiran.
“Awalnya ragu, karena anak diasramakan. Kami harap, dengan di asrama, anak bisa fokus belajar dan tidak terlalu sering main handphone,” ujarnya.
Yana percaya, hidup di asrama bisa membentuk kemandirian dan rasa tanggung jawab, yang tidak selalu bisa diajarkan di rumah.
“Masa depan bisa jadi mereka tidak akan bersama (orangtua), diharapkan bisa belajar kemandirian,” harapnya.
Sekolah rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Proses seleksi dilakukan secara ketat.
Melalui skrining berlapis yang melibatkan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK), pendamping program keluarga harapan (PKH), hingga pengawasan langsung Dinas Sosial Samarinda.
Tak berbeda dengan warga Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu Fatmawati juga mengalami dilema serupa.
Dua anaknya masuk SR, masing-masing jenjang SMP dan SMA. Informasi awal ia peroleh dari pendamping TKSK, dan awalnya sang anak sempat menolak.
“Anaknya sempat tidak mau. Tapi setelah kami beri pengertian soal masa depan, mereka mau,” tutur Fatmawati.
Dia mengakui, anaknya yang masuk jenjang SMP, sempat sudah mencoba mendaftar ke sekolah umum, namun tidak lolos seleksi. Namun untuk yang jenjang SMA, sejak awal memang tidak mendaftar kemana-mana.
Fatmawati berharap, lewat program itu anak-anaknya bisa menjadi pribadi yang pintar, mandiri, dan punya masa depan yang lebih cerah.
“Kami harap, dengan pola asrama dan pendampingan intensif, mereka bisa berkembang lebih baik daripada sebelumnya,” pungkasnya.
SR saat ini masih menggunakan fasilitas sementara di gedung BPMP Kaltim. Proses belajar akan dimulai penuh pada awal Agustus, para siswa akan menjalani masa adaptasi dan pembentukan karakter.
Pada tahap pertama itu, sebanyak 100 siswa akan belajar selama satu tahun di sana. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.