KALTIMPOST.ID-Pemkot Samarinda tengah menyiapkan sistem pengelolaan sampah berbasis kecamatan dengan mengandalkan 10 unit incinerator yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda bersiap melakukan perekrutan operator, guna mengawal tahap awal pengoperasian alat pembakar sampah tersebut.
Kepala DLH Samarinda Endang Liansyah menerangkan, proses rekrutmen calon operator akan dilakukan sekitar Oktober-November mendatang. Sasarannya adalah warga dari masing-masing kecamatan tempat unit incinerator berdiri.
Total, ada enam kecamatan yang akan menerima unit tersebut, yakni Kecamatan Ulu (2 unit), Sungai Kunjang (2 unit), Samarinda Utara (2 unit), Palaran (2 unit), sedangkan Loa Janan Ilir dan Samarinda Seberang masing-masing satu unit.
“Begitu satu unit selesai dan siap digunakan, kami mulai proses rekrutmen. Minimal 4 sampai 6 orang di tiap lokasi. Harapannya November nanti sudah bisa jalan satu unit dulu sebagai pilot project,” terang Endang saat ditemui, Selasa (15/7).
DLH akan menggandeng tim dari kelurahan dan kecamatan untuk mendampingi operasional awal.
Tugas utama operator nantinya bukan hanya mengoperasikan alat pembakar, tapi juga menerima sampah, mencatat data asal dan jenis sampah, serta memastikan proses berjalan aman.
“Selain mengoperasikan incinerator, mereka akan dilatih soal pemilahan. Mana sampah yang bisa dijadikan kompos, pakan maggot, atau daur ulang plastik, dan mana yang layak dibakar,” jelasnya.
DLH Samarinda menegaskan tidak semua jenis sampah bisa dimasukkan ke dalam incinerator. Batu, besi, dan benda padat berat lainnya harus dipisahkan.
Operator juga harus memahami aspek keselamatan kerja karena alat itu menghasilkan panas tinggi.
Untuk syarat usia, DLH menetapkan batas maksimal 35 tahun saat mendaftar. “Karena menyangkut stamina dan konsistensi kerja harian. Jam kerjanya, pada tahap awal ini dari jam 7 pagi sampai 3 sore dengan kapasitas harian per titik mampu mengelola 10 ton per hari,” ucap Endang.
Rencana pelatihan teknis akan dilaksanakan sekitar Oktober. Dipandu langsung oleh pihak produsen alat dari Bandung.
Unit incinerator yang digunakan adalah Wisanggeni generasi 6 yang diklaim mampu membakar sampah dengan minim asap dan limbah air tertangani lewat sistem endapan internal.
DLH menargetkan, satu lokasi bisa dijadikan pusat pelatihan bagi calon operator dari lokasi lain. Setelahnya, pengoperasian bertahap akan diterapkan di semua unit.
“Kami juga menunggu konfirmasi kesiapan teknis dari PUPR. Tapi optimisme kami, tahun ini minimal beberapa incinerator bisa mulai dimanfaatkan,” pungkasnya. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.