KALTIMPOST.ID-Masyarakat Samarinda mulai mengeluhkan kelangkaan beras medium di sejumlah ritel modern dan pasar tradisional.
Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda pun turun ke lapangan dan memastikan beberapa jenis beras medium kosong. Yang tersedia di rak-rak justru hanya beras premium, itu pun stoknya terbatas.
Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani mengatakan pihaknya tengah menelusuri penyebab kekosongan beras tersebut.
Di beberapa pusat perbelanjaan bahkan tidak ditemukan sama sekali. “Diduga, kelangkaan ini dipicu oleh naiknya harga gabah yang menekan pasokan dari distributor,” ucapnya.
Selain itu, merebaknya isu beras oplosan di tingkat nasional hingga Kaltim disebut ikut memicu kehati-hatian pelaku usaha.
Meski demikian, diakuinya, Samarinda belum ada kasus langsung. Tapi salah satu tersangka di kasus beras oplosan nasional kabarnya punya toko di Samarinda. “Jadi bisa saja pengusaha jadi lebih berhati-hati dalam distribusi,” jelas Nurrahmani.
Ia menuturkan saat ini belum akan dilakukan operasi pasar. Fokus utama Disdag adalah memanggil para distributor dan Bulog untuk mengetahui akar persoalan dan merumuskan solusi jangka pendek.
“Kami ingin tahu apa kendalanya. Jangan sampai masyarakat panik, tapi di lapangan memang barangnya kosong,” ucapnya.
Menurutnya, stok beras secara umum sebenarnya masih aman. Namun pengaturan distribusi, khususnya beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), masih berlangsung.
“SPHP itu punya mekanisme ketat. Harus melalui rekomendasi dari Dinas Ketahanan Pangan dulu, dan hanya toko tertentu yang boleh menyalurkan. Di Samarinda baru ada 10 toko yang sudah diverifikasi Bulog,” ungkapnya.
Nurrahmani menegaskan, Disdag tetap memantau perkembangan dan berharap distribusi bisa kembali normal dalam dua minggu ke depan.
Apalagi saat ini juga sedang berjalan program bantuan beras cadangan pangan pemerintah (CPP) yang disalurkan ke masyarakat.
“Kami harap warga tetap tenang. Secara stok sebenarnya tersedia. Ini soal teknis distribusi dan kehati-hatian pelaku usaha saja,” pungkasnya. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.