Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

SD Negeri 020 Samarinda Utara Terancam Longsor, BPBD Sarankan Segera Dilakukan Penurapan Tebing

Denny Saputra • Selasa, 5 Agustus 2025 | 19:15 WIB
URGENT DITANGANI: Kondisi bangunan SD 020 Samarinda Utara di Kelurahan Sempaja Selatan memerlukan penanganan segera karena bangunan dari kayu beberapa bagian sudah rapuh diserang rayap.
URGENT DITANGANI: Kondisi bangunan SD 020 Samarinda Utara di Kelurahan Sempaja Selatan memerlukan penanganan segera karena bangunan dari kayu beberapa bagian sudah rapuh diserang rayap.

SAMARINDA - Sekolah Dasar 020 Samarinda Utara kini masuk radar perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda. Lokasinya yang berada di lereng curam kawasan, tak jauh dari permukiman dataran tinggi di belakang kampus UWGM, perumahan Dosen Unmul, dinilai memiliki potensi bencana tanah longsor.

Analis Kebencanaan BPBD Samarinda Hamzah Umar mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan asesmen terhadap kondisi geologi dan struktur bangunan sekolah tersebut. Hasil awal menunjukkan ada bagian pondasi bangunan yang sudah mengalami penurunan.

“Dari segi lokasi, memang berada di daerah rawan. Tapi untuk relokasi belum masuk kategori mendesak,” ungkapnya, Selasa (5/8).

Menurut Hamzah, pendekatan yang disarankan saat ini adalah mitigasi struktural. Salah satunya dengan pembangunan turap atau penahan tebing yang sesuai dengan kontur lereng. Selain itu, ia juga menyarankan penanaman vegetasi berakar kuat yang mampu menahan gerakan tanah, serta memastikan aliran air hujan tidak terkonsentrasi ke area yang rawan peresapan.

“Jangan sampai air mengalir liar dan meresap masuk ke tanah. Karena kalau jenis tanahnya jenuh air dan tidak stabil, itu bisa memicu longsor seperti kejadian di perumahan mewah di Jalan MT Haryono dan Perum Keledang Mas,” jelasnya.

BPBD menilai tingkat risiko longsor di SDN 020 masih dalam kategori rendah hingga sedang. Berbeda dengan kasus SMPN 24 Samarinda di Jalan P Suryanata Kelurahan Bukit Pinang, yang saran akhirnya agar direlokasi karena berada di zona tangkapan air dengan risiko banjir dan longsor tinggi.

“SMP 24 itu kasusnya jelas, kiri-kanan bukit, dan pernah terjadi longsor yang menimpa bangunan. Makanya kami sarankan relokasi,” tambah Hamzah.

Meski belum ada sejarah longsor di SDN 020, kondisi geografis sekolah tetap harus jadi perhatian. Terlebih, hujan ekstrem kerap terjadi di Samarinda. Biasanya banjir datang lebih dulu, lalu longsor menyusul. “Kalau struktur bangunannya tidak diperkuat, apalagi di atas gunung, risikonya bisa meningkat. “Yang jelas, ini sudah masuk atensi kami,” tutup Hamzah.

Sebagai informasi SDN 020 Samarinda Utara terletak di puncak perbukitan Jalan Karya Baru kondisi sekolah memprihatinkan. Bangunan kayu lapuk, tapi pagarnya dari beton dan besi. Di sana menampung 161 siswa, terbagi dalam tujuh rombel, namun ruang kelas cuma 6, perpustakaan terpaksa disulap jadi ruang belajar.

Saat hujan Sabtu (2/8), kejadian memilukan terjadi. Atap kelas 1 terangkat imbas angin kencang. Kondisi itu juga berdampak pada plafon yang jebol. Karena ada perbaikan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, maka Senin (4/8) kelas 1 terpaksa diliburkan dari belajar tatap muka, sampai perbaikan selesai dilakukan.

“Kami berharap perhatian serius dari pemerintah. Bukan hanya tambal sulam, tapi pembenahan menyeluruh,” ujar Kepala SD 020, Kardi, saat ditemui Senin (4/8).

Editor : Muhammad Ridhuan
#sd negeri #disdikbud #dosen #bpbd samarinda #longsor