KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Buruknya kondisi infrastruktur sejumlah sekolah di Samarinda, dari bangunan kayu hingga kerawanan longsor dan banjir akhirnya mendapat atensi dari DPRD Samarinda. Komisi IV berencana meninjau langsung sedikitnya tiga sekolah yang dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menegaskan pihaknya ingin memastikan rencana penanganan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda tidak hanya berhenti di atas meja.
Dia mengaku akan turun ke lapangan, ada SD dan SMP yang akan dikunjungi langsung. “Kami ingin tahu, pelaksanaan (perbaikan, Red) itu benar-benar dijalankan dalam waktu dekat atau justru molor ke tahun depan,” ujar Novan, Rabu (6/8).
Politisi Golkar ini menyebut, salah satu kasus yang mendesak adalah kondisi SDN 020 Samarinda Utara yang sempat viral karena berdiri di zona rawan longsor.
Ia menilai, jika memang renovasi besar belum memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat, maka pemerintah harus menyiapkan solusi konkret bagi siswa. “Apakah perlu dialihkan ke sekolah sementara, atau bagaimana? Ini yang akan kami dalami,” jelasnya.
Novan juga menyoroti lambatnya deteksi dini kerusakan. Ia menyayangkan jika persoalan baru ditangani setelah muncul di media atau viral di media sosial. Karena setiap sekolah punya kepala sekolah, seharusnya kerusakan bisa disampaikan lebih awal ke Disdikbud. “Kalau tidak ditanggapi, bisa datang ke DPRD. Jangan tunggu sampai ramai dulu baru heboh,” tekannya.
Pihaknya juga mempertanyakan efektivitas penggunaan dana BOS di sekolah-sekolah bermasalah. Ia menilai, dana tersebut memang tidak akan cukup untuk menangani kerusakan besar, apalagi jika bangunannya mayoritas berbahan kayu.
“Saya lihat sendiri, bangunan kelas masih kayu tapi pagar sekolahnya sudah beton. Ini kan janggal. Jumlah siswanya pun hanya sekitar 160-an. Mungkin perlu dipikirkan solusi jangka panjang, seperti penggabungan atau relokasi,” ujarnya.
Novan menegaskan, kunjungan akan menjadi acuan langkah lanjut DPRD untuk memastikan OPD teknis tidak tinggal diam. “Intinya, kerusakan ini harusnya sudah terdeteksi sejak awal. Bukan menunggu ambruk dulu baru bergerak,” tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo