KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa seorang mahasiswi semester lima di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) memantik keresahan.
Ratusan mahasiswa turun menggeruduk Direktorat Polnes, Senin (15/9). Mereka mendesak manajemen kampus mengambil langkah tegas untuk memastikan kasus itu ditangani serius dan berpihak pada korban.
Presiden BEM Polnes Reza Dwi Saputra menyampaikan, ada empat tuntutan utama. Pertama, mahasiswa meminta kampus segera menindak tegas pelaku yang diduga melakukan “tiga dosa besar” di lingkungan akademik.
"Termasuk kekerasan seksual. Proses disiplin maupun hukum harus berjalan transparan, objektif, dan tanpa pengecualian," ucapnya. Kedua, mereka menyoroti kinerja Satgas PPKPT.
Mahasiswa menuntut audit menyeluruh terhadap struktur, mekanisme kerja, serta efektivitas satgas. Hasil audit harus diumumkan kepada civitas akademika dan diikuti pembenahan organisasi, agar penanganan kasus lebih akuntabel dan benar-benar berpihak pada korban.
Tuntutan ketiga menyangkut transparansi dan perlindungan bagi korban. Mahasiswa mendesak kampus membuka perkembangan kasus secara periodik, tanpa mengorbankan kerahasiaan identitas korban.
"Selain itu, kampus wajib menyediakan layanan pendampingan menyeluruh. Mulai psikologis, bantuan hukum, hingga dukungan akademik seperti penyesuaian jadwal perkuliahan atau ujian," tuturnya.
Mahasiswa juga meminta pembenahan fasilitas kampus untuk menjamin keamanan. "Itu mencakup peningkatan penerangan di area rawan, pemasangan CCTV di ruang-ruang strategis, penguatan pos keamanan dan patroli, serta penyediaan kanal pelaporan yang aman," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A