Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pengawasan SPPG Jadi Sorotan, Satgas MBG Samarinda Tegaskan Standar Harus Ditaati

Denny Saputra • Rabu, 17 September 2025 | 14:47 WIB

Ketua Tim Satgas Percepatan MBG Samarinda Suwarso.
Ketua Tim Satgas Percepatan MBG Samarinda Suwarso.

SAMARINDA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda kembali menjadi sorotan. Sejumlah laporan masuk terkait kondisi makanan yang dibagikan kepada siswa di salah satu sekolah dinilai sudah dalam keadaan basi. Seperti di salah satu SMA di Kecamatan Sungai Pinang, beberapa waktu lalu.

Dikonfirmasi soal kondisi tersebut, Ketua Tim Satgas Percepatan MBG Samarinda Suwarso mengaku langsung melakukan komunikasi dengan pihak sekolah begitu kabar itu menyebar.

Dari penjelasan guru, sebagian besar makanan memang cenderung mengarah ke kondisi tidak layak konsumsi. “Akibatnya, sejumlah siswa enggan menyantap hidangan dan memilih membeli makanan di kantin sekolah,” ucapnya, Rabu (17/9).

Baca Juga: DLH Samarinda Segera Tutup TPS di Jalan Teuku Umar, Dianggap Biang Macet dan Rusak Estetika Kota

Padahal, kata dia, dua hari sebelum kejadian, seluruh vendor dan ahli gizi sudah dikumpulkan Satgas MBG untuk menerima arahan teknis. Mulai dari standar kualitas bahan, cara pengemasan, hingga batas maksimal waktu distribusi ke sekolah.

“Sudah jelas disampaikan, makanan harus sampai ke anak-anak maksimal lima jam setelah dimasak. Itu harus dipatuhi,” tegas Suwarso yang juga kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.

Ia mencontohkan, salah satu dapur umum di SPPG Jalan Ir H Juanda sudah menyiapkan dua kali proses masak demi menjaga kesegaran. Bahkan aturan teknis, seperti luas dapur minimal 400 meter persegi, alur masuk bahan baku hingga penempatan ruang masak, juga menjadi bagian dari evaluasi. “Kalau prosedurnya dijalankan dengan benar, seharusnya tidak terjadi makanan basi,” tambahnya.

Baca Juga: CCTV Dishub Samarinda Banyak yang Bermasalah, Hanya Lima Titik yang Berfungsi dari 26 Lokasi

Meski demikian, Satgas tidak menutup mata. Evaluasi lapangan dilakukan bersama Puskesmas dan tim pengawas dari BGN provinsi. Dugaan sementara, kesalahan bisa terjadi pada proses pengemasan yang memicu makanan cepat basi.

“Kami tekankan, dapur umum jangan sampai punya motif bisnis. Program ini investasi negara untuk anak-anak. Harus serius menyiapkan makanan bergizi sesuai standar,” tekannya.

Pihaknya juga memastikan tidak ada larangan bagi masyarakat atau media untuk mendokumentasikan kondisi makanan di lapangan. Hanya saja, informasi yang beredar tetap perlu diverifikasi. “Pernah ada foto hoaks yang isinya diedit sehingga lauk terlihat mengecil. Makanya setiap laporan tetap kami crosscheck agar akurat,” jelasnya.

Baca Juga: Rekomendasi Dewan Lambat, Pembangunan Insinerator di Samarinda Seberang Terhambat

Saat ini, dari total kebutuhan 73 dapur MBG di Samarinda, baru 13 yang sudah beroperasi. Sisanya masih dalam tahap pembangunan dan seleksi oleh pemerintah pusat. Satgas menegaskan pembinaan terhadap vendor akan terus dilakukan, termasuk menyiapkan pelatihan rutin bagi tenaga dapur dan ahli gizi.

“Kami sedang siapkan sistem layanan agar semua pihak bisa memberi masukan. Harapannya, ke depan makanan yang sampai ke siswa tetap segar, sesuai standar, dan benar-benar meningkatkan selera makan anak-anak,” pungkasnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#Makan Bergizi Gratis (MBG) #samarinda