KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Program jaringan gas (jargas) rumah tangga kembali digulirkan di Samarinda. Tahun ini, pemerintah pusat memberikan kuota 7.619 sambungan rumah (SR), khususnya untuk wilayah Samarinda Ilir dan Sungai Pinang. Namun, di balik manfaat yang dijanjikan, pengalaman warga ternyata tidak seragam. Ada yang merasa diuntungkan, ada pula yang mengaku justru terbebani.
Salah satunya, warga Jalan Jelawat Gang 5 RT 08 Kelurahan Sidodamai, Rohana yang mengaku lebih nyaman sejak rumahnya dipasang jargas pada 2021 lalu. Ia tak lagi repot bongkar-pasang tabung elpiji. Dari sisi biaya pun terasa lebih ringan. “Kalau saya hitung, sebulan tidak sampai Rp 20 ribu. Jadi menurut saya lebih hemat, apalagi kalau pemakaiannya wajar,” tuturnya, Rabu (17/9).
Dia menceritakan ketika pertama kali ditawarkan pemerintah, jargas dijelaskan sebagai energi aman, praktis, dan hemat. “Pemasangan gratis, bayar sesuai pemakaian, dan katanya tidak berbahaya. Itu yang bikin saya mau ikut,” singkatnya.
Namun cerita berbeda datang dari Agustina, tetangganya. Ia mengaku sempat dikejutkan dengan tagihan yang tiba-tiba melonjak. Jika di awal hanya sekitar Rp 30–40 ribu per bulan, belakangan justru membengkak hingga Rp 700 ribu. “Kami pernah mengurangi masak, tapi tagihannya tetap tinggi. Disuruh dicicil pula. Akhirnya kami minta dilepas, tapi itu pun baru ditindak sebulan kemudian,” kesalnya.
Dia juga menyoroti buruknya layanan pengelola. Menurutnya, jika ada masalah seharusnya ada pengecekan teknis langsung. “Kalau ada tagihan besar begitu, mestinya petugas datang periksa. Saya ingin cek sendiri, tapi takut salah karena tidak tahu caranya,” keluhnya.
Pemerintah kota tak menampik adanya keluhan. Meski begitu, mereka tetap optimistis jargas akan menjadi solusi energi rumah tangga yang lebih ekonomis.
Asisten II Pemkot Samarinda Marnabas Patiroy menjelaskan bahwa pemasangan tahun ini akan diprioritaskan di Kelurahan Sidomulyo dan Sungai Pinang Dalam.
“Awalnya jatah Samarinda lebih dari 15 ribu SR, tapi setelah disesuaikan tinggal sekitar 7 ribu,” ungkapnya beberapa waktu lalu. Marnabas menambahkan, pekerjaan proyek pasti menimbulkan gangguan karena ada penggalian jalan untuk pipa gas.
“Gangguan pasti ada, tapi itu bagian dari proses. Kami berharap warga bisa bersabar. Di wilayah Sambutan sebelumnya juga berjalan lancar,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani