Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bisa Atasi Krisis Air Bersih Batu Cermin, Unmul Tentukan Titik Bor Air Tanah dengan Teknologi Modern

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Rabu, 17 September 2025 | 17:34 WIB
TEKNOLOGI: Mahasiswa Geofisika Universitas Mulawarman memasang elektroda saat survei titik bor air tanah di kawasan Batu Cermin, Samarinda Utara.
TEKNOLOGI: Mahasiswa Geofisika Universitas Mulawarman memasang elektroda saat survei titik bor air tanah di kawasan Batu Cermin, Samarinda Utara.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Air bersih masih jadi persoalan utama warga Batu Cermin, Samarinda Utara. Jauh dari layanan PDAM dan sulit menggali sumur bor di tanah karst, warga bertahun-tahun mengandalkan air hujan dan membeli air mahal.

Kini, tim dari program studi (prodi) Geofisika dan Fisika Universitas Mulawarman (Unmul) hadir dengan teknologi ADMT untuk memetakan titik bor air tanah, membuka peluang nyata bagi masyarakat keluar dari krisis tersebut.

Langkah kaki mahasiswa dan dosen dari prodi Geofisika dan Fisika Unmul terlihat sibuk di antara jalan berbatu dan semak belukar kawasan Batu Cermin, Kelurahan Sempaja Utara.

Mereka menggelar kabel, menancapkan elektroda kecil ke tanah, lalu menatap layar alat berwarna oranye yang menampilkan data bawah permukaan.

Di sekitar mereka, warga berkerumun dengan penasaran. Bagi masyarakat setempat, apa yang tampak seperti rangkaian kabel dan angka-angka itu adalah harapan baru untuk keluar dari krisis air bersih yang sudah bertahun-tahun membelenggu.

Air bersih di Batu Cermin bukan sekadar kebutuhan, melainkan perjuangan sehari-hari. Jarak rumah yang berjauhan membuat saluran PDAM sulit menjangkau, sementara tanah dan bebatuan karst yang keras menjadikan sumur bor hampir mustahil dibangun.

Banyak keluarga hanya bisa mengandalkan air hujan yang ditampung saat musim penghujan, atau membeli air dengan harga mahal ketika musim kemarau datang. “Kalau ada titik bor yang tepat, kami tidak perlu lagi mengandalkan air hujan atau membeli air dengan harga mahal,” ujar Yudi, Ketua Karang Taruna Sempaja Utara.

Di balik permukaan yang kering, sebenarnya kawasan karst seperti Batu Cermin menyimpan potensi besar. Air yang meresap cepat ke celah batu kapur berkumpul di rongga bawah tanah, membentuk cadangan alami yang jarang disadari.

Potensi inilah yang coba dipetakan oleh tim dosen dan mahasiswa Geofisika dan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Air Tanah Melalui Penentuan Titik Bor di Zona Air Tanah Kecamatan Samarinda Utara.”

Kegiatan yang didanai melalui hibah DPPM BIMA ini dipimpin oleh dosen prodi Geofisika Rahmiati Munir SSi MSc dan Wahidah SSi MT. Mereka bekerja sama dengan dosen dari Prodi Fisika Dr Rahmawati Munir SSi MSc dan Dr Djayus MT.  

Mereka membawa teknologi elektromagnetik Audio Domain Magnetotelluric (ADMT), sebuah metode modern yang memanfaatkan sinyal alami bumi dan atmosfer untuk membaca struktur bawah tanah. ADMT mampu mendeteksi lapisan batuan dan zona yang berpotensi menyimpan air, dengan cara cepat, efisien, dan ramah lingkungan.

“Metode ADMT ini memungkinkan kami menemukan titik air tanah lebih efisien, sehingga warga tidak perlu mencoba-coba mengebor di banyak tempat yang berisiko gagal,” jelas Rahmiati Munir di sela kegiatan.

Tidak hanya dosen dan mahasiswa yang terlibat, pemuda Karang Taruna Sempaja Utara ikut turun tangan. Mereka membantu membentangkan kabel, menancapkan sensor, hingga ikut menyimak pemaparan hasil survei. Suasana kolaboratif itu memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Hasil survei ini akan menjadi dasar penentuan titik bor air tanah yang lebih pasti, sehingga upaya pengeboran bisa dilakukan dengan keyakinan lebih tinggi.

Selain survei teknis, tim Unmul juga mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan dan pelestarian air tanah, agar cadangan yang ada tidak cepat habis. Program ini diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi hadir langsung di tengah masyarakat, menghadirkan solusi atas persoalan yang selama ini belum terpecahkan.

Kehadiran tim Unmul di Batu Cermin memberi secercah harapan. Di tengah kesulitan panjang warga untuk mendapatkan air bersih, kegiatan ini menandai langkah penting: dari sekadar menunggu hujan atau membeli air, menuju upaya sistematis berbasis ilmu pengetahuan. Dengan sinergi akademisi, mahasiswa, dan warga, persoalan klasik air bersih di kawasan karst Samarinda Utara kini mulai menemukan jalannya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pdam #air bersih #UNMUL #Geofisika #samarinda #batu cermin