Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Satgas MBG Evaluasi Kasus Makanan Basi, Begini Catatan Penting yang Diberikan

M Hafiz Alfaruqi • Kamis, 18 September 2025 | 11:51 WIB
BERI CATATAN: Ketua Tim Satgas MBG Samarinda-Suwarso memberikan penjelasan terkait evaluasi kasus makanan basi di salah satu sekolah menengah kawasan Sungai Pinang, Rabu (17/9).
BERI CATATAN: Ketua Tim Satgas MBG Samarinda-Suwarso memberikan penjelasan terkait evaluasi kasus makanan basi di salah satu sekolah menengah kawasan Sungai Pinang, Rabu (17/9).

SAMARINDAProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda kembali menjadi sorotan setelah beredar informasi adanya makanan yang cenderung basi di salah satu sekolah menengah kawasan Sungai Pinang.

Ketua Tim Satgas MBG Samarinda Suwarso menegaskan, pihaknya telah melakukan langkah evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kejadian serupa tidak terulang.

“Dua hari sebelum informasi itu muncul, seluruh vendor SPPG dan ahli gizi sebenarnya sudah kami kumpulkan. Kami beri materi pencegahan, mulai kualitas bahan, cara pengemasan, hingga batas waktu pengantaran. Tapi faktanya, memang ada makanan yang cenderung basi sehingga sebagian anak enggan mengonsumsi,” jelas Suwarso, Rabu (17/9).

 

Satgas langsung berkoordinasi dengan pihak sekolah dan guru untuk memastikan kondisi di lapangan. Bahkan, puskesmas bersama pengawas provinsi telah turun melakukan evaluasi. Menurut Suwarso, salah satu faktor penyebab bisa berasal dari cara memasak maupun pengemasan makanan yang masih panas lalu langsung ditutup rapat.

“Contoh nasi goreng, kalau nasinya lembek lalu ditutup dalam keadaan panas, itu berisiko cepat basi. Hal itu sebenarnya sudah kami tekankan dalam arahan bersama Dinas Kesehatan,” tambahnya.

Selain faktor teknis, satgas juga menegaskan adanya standar khusus yang harus dipenuhi setiap penyedia MBG. Salah satunya syarat dapur minimal berukuran 400 meter persegi dengan alur produksi yang teratur, mulai bahan mentah hingga penyajian.

 

Namun, pihaknya tidak serta merta memberikan sanksi keras. Vendor yang terlibat masih akan mendapat pembinaan. “Itu program nasional dari presiden, pembinaan harus terus dilakukan. Evaluasi jalan terus, bahkan pelatihan bagi vendor dan ahli gizi juga disiapkan,” ungkapnya.

Dia juga menepis isu bahwa siswa dilarang memotret makanan bermasalah. Menurutnya, tidak ada aturan seperti itu. “Kami transparan. Kalau memang kejadian benar, kami tegur vendornya. Tapi tetap harus dicek supaya informasi akurat,” tegasnya.

 

Satgas MBG berharap vendor tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi serius menyediakan gizi sesuai standar. “Itu untuk anak-anak, investasi negara. Jangan spekulasi, harus betul-betul niat memberikan gizi,” pungkasnya. Saat ini, program MBG di Samarinda telah berjalan di 13 sekolah dari kebutuhan total 73 sekolah. Sisanya masih menunggu tahapan seleksi dan persiapan lahan oleh Pemkot Samarinda. 

Editor : Dwi Restu A
#makanan basi #satgas #samarinda #Mbg