Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Balapan Liar di Samarinda Seberang Kian Meresahkan, Camat Galakkan Siskamling Warga

Denny Saputra • Minggu, 21 September 2025 | 17:45 WIB
JAGA: Tim gabungan menggelar siskamling keamanan dengan sasaran pembalap liar di kawasan Samarinda Seberang, Minggu (21/9) dini hari.
JAGA: Tim gabungan menggelar siskamling keamanan dengan sasaran pembalap liar di kawasan Samarinda Seberang, Minggu (21/9) dini hari.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Aktivitas balapan liar di kawasan Samarinda Seberang kembali menuai keluhan warga. Setiap akhir pekan, terutama di Jalan Pattimura dan Jalan Bung Tomo, puluhan remaja kerap menggeber motor hingga larut malam. Suara bising knalpot dan aksi kebut-kebutan dianggap mengganggu ketenangan lingkungan sekaligus membahayakan pengguna jalan lain.

Menanggapi keresahan itu, Pemerintah Kecamatan Samarinda Seberang mulai mengambil langkah konkret. Camat Aditya Koesprayogi menuturkan, pihaknya menggandeng Satpol PP, Dishub, hingga kepolisian untuk menggelar patroli dan penjagaan rutin. “Fenomena balapan liar memang ranah kepolisian. Tapi karena keresahan sudah meluas, kami ikut terlibat. Unsur kelurahan, LPM, hingga relawan juga kami libatkan,” ujarnya, Minggu (21/9).

Menurut Aditya, pola balapan liar paling sering muncul pada malam Minggu. Karena itu, penjagaan dilakukan sejak pukul 23.00 hingga 05.00 dini hari. Warga bersama aparat melakukan apel dan briefing sebelum turun ke lapangan. “Kami ingin kehadiran pemerintah dirasakan. Ada dampak psikologis juga bagi polisi bahwa mereka tidak bekerja sendiri,” tambahnya.

Selain penjagaan, upaya preventif juga disiapkan, salah satunya dengan pemasangan polisi tidur kecil atau speed bump di jalur rawan. Bahkan tak menutup kemungkinan dibuat penghalang sementara, seperti ban bekas yang dirangkai, hanya dipasang malam hari.

“Setidaknya ini bisa mengurangi potensi jalan dipakai untuk kebut-kebutan,” jelasnya.
Aditya menilai, aksi balap liar tidak sekadar soal hobi ugal-ugalan. Ada faktor pencarian eksistensi remaja yang ingin mendapat pengakuan. Sayangnya, cara itu salah kaprah.

“Risikonya besar. Bisa memakan korban jiwa, bisa juga mengganggu masyarakat sekitar. Ada warga lewat yang terserempet, ada yang tidak bisa istirahat karena bising. Itu yang kami cegah,” terangnya.

Di sisi lain, edukasi juga tetap ditempuh. Beberapa kali pihak kecamatan bersama forum RT dan Polsek memanggil orang tua pembalap liar untuk diberi pemahaman. Namun, Aditya mengakui ada anak-anak yang sudah sulit diarahkan. “Kalau tidak menghormati orang tua, memang harus ada penindakan tegas. Itu sudah ranah kepolisian. Bisa dengan tilang, penahanan kendaraan, dan sebagainya,” tegasnya.

Aditya juga mengimbau warga tidak main hakim sendiri. Karen kalau tidak dikawal, khawatir ada warga yang melempari batu ke arah pembalap liar. “Itu bisa memicu masalah baru. Karena itu, kami hadir untuk menjaga kondusifitas,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
#balap liar #samarinda seberang #Aditya Koesprayogi