KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan pentingnya penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning dalam sistem pendidikan Indonesia. Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke SD Islam Fastabiqul Khairat, Jalan A. Wahab Syahranie, Samarinda Ulu, Selasa (30/9).
Menurut Mu’ti, pembelajaran mendalam merupakan salah satu program unggulan yang kini tengah digalakkan Kementerian. Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, pihaknya optimistis bisa mengimplementasikan metode ini secara bertahap di seluruh satuan pendidikan.
“Intinya, kami berusaha memperbaiki kualitas pendidikan dengan cara agar pembelajaran mendalam terus diterapkan. Prinsipnya, semua mata pelajaran diarahkan ke pembelajaran yang mindful dan meaningful,” ungkapnya.
Mu’ti mencontohkan, di sekolah yang ia kunjungi, sudah ada guru yang menulis buku dan mengembangkan praktik pembelajaran mendalam. Menurutnya, inisiatif semacam ini penting untuk menjadi inspirasi di sekolah lain. “Ada contoh menarik bagaimana pembelajaran mendalam dikembangkan dari pengalaman para guru. Itu merupakan inovasi yang patut diapresiasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kebijakan nasional yang mendukung program ini. Pertama, penyederhanaan muatan kurikulum agar materi tidak terlalu banyak, namun dibahas lebih mendalam. Kedua, pelatihan intensif untuk guru-guru, yang dibiayai menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Jadi kalau ada yang bilang Kementerian jualan pelatihan, itu tidak benar. Pelatihan guru memang dibolehkan memakai dana BOS. Bahkan pelatihan menjadi bagian dari kewajiban pemenuhan 24 jam mengajar guru,” tegasnya.
Pelatihan yang diberikan pun beragam, mulai dari pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, kepemimpinan kepala sekolah, hingga pelatihan untuk guru yang mengajar mata pelajaran khusus seperti coding dan kecerdasan artifisial. Menurut Mu’ti, hal ini sejalan dengan kebutuhan zaman sekaligus meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
“Kalau ada yang mengatakan Kementerian tidak memperhatikan guru, itu keliru. Justru saat ini pelatihan guru sangat beragam dan terus kami tingkatkan. Sebab kualitas guru akan menentukan kualitas pembelajaran,” tuturnya.
Mu’ti juga menyebut, peningkatan tunjangan guru sudah dilakukan sejak tahun lalu, dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta. “Kebijakan itu, lanjutnya, adalah bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani