KALTIMPOST.ID, SAMARINDA– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya, Presiden Gibran Rakabuming Raka kini disorot dari sisi kualitas kontrol dan keterbukaan.
“MBG itu program besar dengan anggaran besar. Sejak awal semestinya sudah terencana, terkoordinasi, dan terkontrol. Namun, yang terlihat saat ini, kualitas kontrolnya masih lemah,” ucap Saiful Bahtiar, Pengamat Kebijakan Publik sekaligus dosen di Universitas Mulawarman, Rabu (1/10). Saiful menilai, pengawasan terhadap program ini masih lemah dan perlu diperketat.
Dia menjelaskan, MBG berupa makanan siap saji memerlukan pengawasan sejak proses perencanaan. Tanpa mitigasi dan pencegahan sejak awal, berbagai dampak negatif bisa muncul, mulai makanan yang tidak higienis, tidak sesuai standar gizi, hingga berisiko tidak layak konsumsi.
Menurut Saiful, ada tiga poin penting yang seharusnya dipastikan sejak awal. Pertama, kandungan gizi jelas dan seimbang. Kedua, makanan higienis. Ketiga, layak dikonsumsi. “Kalau tiga hal itu konsisten dijalankan, kualitas MBG bisa terjamin,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, perlunya pengawas eksternal yang ditunjuk langsung pemerintah pusat hingga daerah. Tim khusus bertugas mendampingi secara kontinu agar kualitas makanan benar-benar sesuai standar. Kasus temuan makanan MBG yang basi hingga ada belatung. Menurutnya, kejadian itu tidak boleh terulang. “Kalau sudah begitu, artinya pengawasan terlambat. Seharusnya dari awal sudah ada sistem yang mencegah hal-hal semacam itu,” tegasnya.
Soal transparansi dalam penunjukan penyedia jasa atau katering sedikit dikritik dirinya. “Katering harus jelas kualifikasinya. Ada ahli gizi, ahli kesehatan, dan standar yang ketat agar layak mengelola MBG,” katanya.
Selain aspek teknis, evaluasi juga perlu dilakukan secara berkala. Misalnya apakah makanan sesuai dengan selera anak-anak. “Kalau gizinya baik tapi tidak dimakan karena tidak sesuai selera, itu juga jadi masalah,” ucapnya.
Bagi Saiful, penguatan pengawasan eksternal dan transparansi penyedia layanan adalah kunci menjaga kualitas program ini. “Kalau itu dilakukan, tujuan utama MBG untuk meningkatkan kualitas peserta didik bisa tercapai,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A