SAMARINDA—Kamis (2/10) dini hari di Samarinda, suasana ketenangan warga di Jalan Diponegoro, RT 12, Kecamatan Samarinda Kota, berubah menjadi kepanikan. Hiruk-pikuk suara orang berlarian, sirene, dan api semakin membesar. Sebanyak 20 rumah ludes dilahap si jago merah.
Sebanyak 33 kepala keluarga dengan total 88 jiwa kini kehilangan tempat tinggal. Mereka hanya bisa duduk di posko darurat yang didirikan di sekitar lokasi, menatap sisa-sisa puing hitam yang dulunya rumah.
Kebakaran itu bukan semata karena api yang besar. Akses jalan sempit membuat pemadam kesulitan menjangkau titik kebakaran. Gang Selamet yang menuju lokasi lebarnya hanya sekitar 3 meter. Begitu masuk ke area rumah bangsal, ruangnya makin menyempit, hanya 1 meter.
Api bermula dari salah satu rumah bangsal tujuh pintu. Di sana Jamaludin (64), salah satu penghuni, tinggal bersama anaknya. “Pukul 03.30 Wita mulai sudah. Api pertama kali dari dalam. Ada gang kecil khusus rumah bangsal. Api itu di tengah-tengah, cepat sekali menyebar,” ujarnya.
Di gang selebar 1 meter, lebih 10 motor parkir berjejer. Beberapa sempat diselamatkan, beberapa lainnya hangus. Jamaludin kehilangan hampir semua yang dia punya. “Surat-surat penting, handphone, pakaian, peralatan rumah tangga semua habis. Yang tersisa hanya pakaian di badan,” ujarnya.
Anaknya yang baru masuk SMP kelas VII kehilangan semua perlengkapan sekolah. “Waktu kebakaran anak saya teriak, ‘Baju sekolah, Pak’. Dia menangis. Tapi api sudah masuk. Mau bagaimana lagi,” ujarnya dengan lesu.
Di posko darurat, banyak anak-anak hanya bisa memeluk orang tuanya. Beberapa warga mencoba menyisir sisa rumah, berharap ada barang berharga yang bisa diselamatkan. Tapi sebagian besar hanya tersisa arang. Mayoritas korban adalah warga yang tinggal di rumah bangsal sewaan. Itu sebabnya kondisi ekonomi mereka memang serba terbatas.
“Di sana rata-rata nyewa. Orang-orang ‘kecil’. Saya pedagang ikan di Pasar Pagi, tapi setelah pasar dibenahi, pindah ke Sungai Dama. Jualannya tidak seperti dulu. Sekarang cuma layani langganan, antar-ambilkan. Jadi penghasilan makin sempit,” jelasnya. Kehilangan rumah sewa jelas memperberat beban hidup. Apalagi banyak dari mereka tidak punya tabungan untuk memulai kembali.
Sejauh ini, Dinas Sosial Samarinda sudah mendata para korban. Namun, warga masih menunggu kepastian bantuan yang bisa meringankan beban. “Harapan kami bisa dibantu. Karena kami penyewa. Hidup sudah pas-pasan, sekarang rumah habis,” kuncinya. (*)
Editor : Dwi Restu A