KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Program Sekolah Rakyat (SR) yang digagas pemerintah menjadi salah satu upaya nyata mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan. Di Samarinda, Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 58 Provinsi Kaltim, di Jalan Ery Suparjan Kecamatan Samarinda Utara, menjadi bukti bahwa pendidikan bisa membuka harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Sekolah yang berada di bawah binaan Pemprov Kaltim ini menampung 49 siswa dari 10 kabupaten dan kota se-Kaltim. Terdiri dari 24 siswa tingkat SD dan 25 siswa SMA, sementara ini tanpa jenjang SMP.
Kepala SRT 58 Rabiatul Adawiyah menjelaskan seluruh siswa tinggal di asrama dengan fasilitas lengkap, mulai kamar tidur, toilet, hingga sarana belajar. “Satu kamar diisi empat anak, tapi ada juga yang hanya tiga, karena kasur dan ranjangnya masih lebih,” ujarnya ditemui usai kunjungan Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf, Rabu (8/10).
Kegiatan belajar di sekolah ini menantang. Banyak siswa SD yang baru belajar membaca di usia delapan hingga sembilan tahun. Bahwa sebagian anak-anak ini dulunya hidup di jalanan, ada yang sempat berhenti sekolah setahun, bahkan dua tahun. “Karena mereka ini dari latar belakang keluarga yang beragam,” singkatnya.
Dia menjelaskan karena itu, kelas SD dibagi dua kelompok, kelas kecil dan besar, dengan dua guru di setiap kelas agar lebih fokus membimbing. Nah untuk jenjang SMA diakuinya cenderung lebih baik. “Meskipun banyak beberapa kurang motivasi belajarnya, bahkan usia paling tua ada yang 18 tahun,” terangnya.
Saat ini terdapat 14 guru yang semuanya tinggal di lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pengasuh bagi para siswa. Enam di antaranya bertugas khusus sebagai wali asuh yang mendampingi anak di luar jam pelajaran. “Anak SD dan SMA kamarnya terpisah, tapi setiap area selalu bersebelahan dengan kamar guru,” jelasnya.
Selain pendidikan formal, siswa juga mendapat pelatihan tambahan. SRT 58 akan mengajarkan koding dan kecerdasan buatan (AI) sebagai muatan lokal, menggantikan bahasa daerah. “Begitu laptop tersedia, pembelajaran akan dilakukan di kelas dan di bawah bimbingan guru. Guru dan pola belajarnya sudah disiapkan. Yakni modul dari YLPI Al Hikmah Surabaya,” jelasnya.
Dalam kunjungannya di hari kedua lawatan kerja di Samarinda, Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf menegaskan bahwa setiap sekolah rakyat harus menjadi tempat tumbuhnya disiplin, empati, dan kasih sayang. “Anak-anak ini datang dari latar belakang sulit. Di awal memang butuh adaptasi dan kesabaran. Tapi pengalaman dari sekolah lain menunjukkan, lama-lama mereka menjadi lebih disiplin dan nyaman belajar,” ujarnya.
Bagi Gus Ipul—sapaan akrab Mensos—keberadaan sekolah rakyat adalah bukti negara hadir menjamin pendidikan dan kehidupan yang layak bagi keluarga miskin. “Kalau pendidikan mereka baik, hidupnya juga bisa berubah,” tegasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani