KALTIMPOST.ID, Di balik padatnya aktivitas Kota Samarinda, Sungai Lempake ternyata masih menyimpan kehidupan bawah air yang cukup menarik.
Dari hasil pengamatan, indeks keanekaragaman ikan (H) di sungai ini mencapai 1,969, yang masuk dalam kategori sedang.
Artinya, populasi ikan di Sungai Lempake masih terjaga dengan baik dan tidak didominasi oleh satu spesies tertentu. Cukup mengejutkan untuk sungai yang berada di tengah kota, bukan?
Kalau dilihat dari jenisnya, ikan yang paling banyak ditemukan adalah ikan seluang (29,8%), disusul ikan sapu-sapu (27,35%), puyau (19,33%), sepat (16,5%), dan nila (7,07%).
Meski ada perbedaan persentase, hasil ini menunjukkan bahwa masing-masing spesies hidup berdampingan secara seimbang.
Nilai indeks keseragaman (e) sebesar 0,394 juga menguatkan hal itu, masih dalam kategori sedang dan stabil.
Sementara itu, indeks dominansi (C) yang hanya berada di angka 0,04 menandakan tidak ada satu spesies pun yang menguasai perairan Sungai Lempake.
Dengan kata lain, semua jenis ikan punya kesempatan hidup yang sama, dan ini jadi tanda bahwa kondisi ekosistem di sana masih cukup sehat.
Hasil ini tentu jadi kabar baik bagi warga Samarinda. Di tengah perkembangan kota dan meningkatnya aktivitas manusia, Sungai Lempake masih bisa mempertahankan keseimbangan ekosistemnya.
Semoga saja kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai terus meningkat, supaya keberagaman ikan ini tetap lestari dan bisa dinikmati generasi berikutnya.
Ikan Seluang
Ikan seluang dikenal sebagai ikan mungil dengan tubuh ramping dan memanjang, berukuran sekitar 4–10 cm tergantung spesiesnya.
Warnanya keperakan dengan garis kehitaman atau kekuningan di sepanjang tubuh, serta memiliki sirip transparan dan mata besar.
Ciri ini membuatnya mudah dikenali di antara ikan air tawar lainnya. Seluang biasanya memakan plankton dan serangga kecil, serta bergerak lincah di perairan dangkal.
Habitat ikan ini umumnya di sungai, rawa, dan danau berarus lemah, dengan dasar berpasir atau berlumpur yang banyak ditumbuhi vegetasi air.
Menyebar luas di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ikan seluang mampu bertahan pada suhu 22–28°C dengan pH air 5,5–7,5.
Keberadaannya sering menjadi indikator ekosistem perairan yang seimbang, termasuk di Sungai Lempake, Samarinda.
Ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu, atau yang sering disebut janitor fish, berasal dari sungai-sungai di Amerika Selatan, khususnya Brasil, Paraguay, dan Argentina.
Termasuk dalam famili Loricariidae, ikan ini dikenal karena kemampuannya membersihkan alga dan kotoran di akuarium.
Kini, ikan sapu-sapu sudah banyak ditemukan di perairan tawar Indonesia, bahkan menjadi spesies invasif di beberapa daerah karena kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan baru.
Secara fisik, ikan ini memiliki tubuh panjang dengan sisik keras dan mulut berbentuk penghisap yang khas.
Warnanya cenderung gelap dengan pola loreng atau bintik, dan bisa tumbuh hingga 60 cm.
Ikan sapu-sapu termasuk omnivora, aktif di malam hari, serta memakan alga, sisa tumbuhan, dan hewan kecil.
Meski mampu menjaga kebersihan perairan, dagingnya tidak disarankan untuk dikonsumsi karena kandungan gizinya rendah dan berisiko mengandung logam berat.
Oleh sebab itu, ikan sapu-sapu lebih cocok dijadikan ikan pembersih alami ketimbang bahan pangan.
Ikan Payau
Ikan puyau merupakan ikan air tawar dari keluarga Cyprinidae yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Kalimantan.
Ikan ini biasanya hidup berkelompok di tepi sungai, terutama di area dengan batang pohon terendam air.
Kebiasaannya yang suka berada di perairan tenang membuat ikan puyau mudah ditemukan oleh warga lokal yang kerap menjadikannya sebagai hasil tangkapan harian.
Ciri khas ikan puyau terletak pada moncongnya yang membulat tumpul serta bibir berkerinyut yang bisa ditarik ke dalam.
Panjang tubuhnya bisa mencapai 250–260 mm, dengan nama lain yang dikenal seperti nilem, nilem mangut, atau melem (Osteochilus vittatus).
Meski rasanya gurih dan disukai banyak orang, ikan ini memiliki tulang yang cukup banyak, sehingga perlu kehati-hatian saat menyantapnya agar tidak tertelan. ***
Editor : Dwi Puspitarini