SAMARINDA — Hari itu, masih segar diingatan drh Intan Purwa Dewantari. Baru sebulan Antasari Pet Clinic (APC) beroperasi pada Maret 2018 lalu. Seorang pria datang meminta bantuan. Membawa seekor kucing yang kedua bola matanya sudah keluar, serta rahang patah. Dipastikan hewan malang itu korban kecelakaan.
"Dia rescuer, tapi tergerak untuk menyelamatkan kucing itu. Buka donasi untuk melunasi pengobatan. Saya operasi langsung. Dan sehari setelahnya kondisinya langsung stabil, sudah ada respons untuk makan sendiri. Dari situ, dia lumayan sering open donasi untuk hewan. Jadi satu kasus selesai, ada lagi, begitu terus," kenang Intan.
Nama kliniknya mulai dikenal. Pertolongan pertama bagi hewan yang ditelantarkan. Dari sana, Intan melihat bahwa masih banyak orang yang peduli dan empati utamanya pada hewan.
Dukungan masyarakat mengalir. Komunitas seperti Cat Lovers Samarinda (CLS) dan Dog Lovers Samarinda (DLS) mulai terbentuk. Mereka bekerja sama dengan klinik untuk menolong hewan terlantar di jalanan.
“Biasanya mereka open donasi, nanti hewannya dibawa ke kami untuk dirawat. Setelah sembuh, dikembalikan ke yang rescue untuk diadopsi,” jelasnya.
Menurutnya, tren penyelamatan hewan di Samarinda sempat mencapai puncak pada 2020-2021 saat pandemi Covid-19. Banyak warga punya waktu luang dan tergerak membantu. “Waktu itu hampir tiap hari ada kasus baru. Tapi sekarang enggak sebanyak dulu, mungkin juga karena sudah teredukasi,” katanya.
Meski begitu, Intan menilai semangat para relawan tak pernah padam. “Yang paling luar biasa, banyak rescuer berasal dari kalangan biasa. Ada satpam, buruh, bahkan ibu rumah tangga yang enggak tega lihat hewan menderita,” ucapnya. Menjadikan mereka pahlawan tanpa sorotan.
Beragam kasus penelantaran hewan dia temui. Terbanyak adalah karena kecelakaan dan penyakit kulit. Mau itu hewan ras atau liar. Tak jarang juga penyakit tumor hingga kanker.
"Untuk pembayaran juga misal itu hewan rescue juga saya pasti beri waktu untuk kumpulkan dulu (donasi). Ya kadang di beberapa kondisi, kalau adanya (dana) segitu ya sudah. Satu yang saya tekankan, hewan itu kalau diupayakan sembuh bisa kok. Yang menurut orang lain mungkin sudah enggak ada harapan, ternyata bisa sembuh," sebutnya.
Kini, APC memiliki tim lengkap dengan dokter, paramedis, dan fasilitas modern. Namun, bagi Intan, esensi pekerjaan itu tak pernah berubah. Komunikasi yang baik adalah kunci. Selain itu, tentu dia dan timnya selalu belajar dan upgrade ilmu.
“Dulu saya pikir ini pekerjaan sampingan, tapi ternyata malah jadi one job karena pas awal buka mikirnya apa ada pasien nanti ya. Akhirnya setiap hewan yang datang dengan luka, bagi saya, itu adalah ilmu, amanah juga buat saya. Bagi pemiliknya atau yang menyelamatkan itu adalah kasih sayang," ucapnya.
Penyelamatan hewan terlantar juga makin masif lewat media sosial. Bahkan pemerhati atau penyayang hewan nasional beberapa kali memercayakan klinik Intan untuk melakukan tindakan.
"Ada beberapa, kami obati di sini. Ada yang waktu banjir Samarinda ramai itu, hewan-hewan yang terjebak dan sakit viral dan banyak yang tergerak untuk bantu. Kami obati. Kemudian diterbangkan ke Jakarta. Makin banyak yang peduli," tutupnya. (*)
Editor : Muhammad Ridhuan