BEBERAPA hewan peliharaan berakhir di jalan setelah dianggap tak lagi lucu, tak “instagramable”, atau sakit dan butuh biaya perawatan tinggi. Fenomena itu beberapa kali terlihat di klinik hewan, termasuk Antasari Pet Clinic (APC) milik drh Intan Purwa Dewantari. Dia menyebut, tren tersebut terjadi karena sebagian orang masih memandang hewan bukan sebagai makhluk hidup, melainkan sekadar tren atau hiburan sementara.
"Perlu dipahami dulu, tujuan memelihara hewan itu apa. Tapi tetap harus memenuhi kebutuhannya. Tidak sekadar memberi makan, tapi juga kesehatannya," ujar Intan saat ditemui di kliniknya di kawasan Jalan Antasari, Samarinda.
Menurut Intan, rendahnya komitmen dipicu oleh dua hal, yakni kurangnya edukasi dan ketidaksiapan finansial. Banyak pemilik hewan tidak memperhitungkan biaya dasar seperti makanan bergizi, vaksinasi, dan perawatan medis sejak awal.
"Ada yang dari awal niatnya breeding (ternak) untuk dijual, tapi tidak siap kalau ternyata hewan itu butuh biaya besar. Akhirnya saat tidak laku atau sakit, jadi korban,” ungkap dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kaltim 1 itu.
Dia menjelaskan, tanggung jawab terhadap hewan peliharaan seharusnya tidak berhenti saat hewan masih lucu dan sehat. “Kalau kamu memutuskan memelihara, berarti kamu juga siap dengan konsekuensinya. Hewan sama seperti manusia, bisa sakit, bisa tua, bisa butuh perhatian,” tegasnya.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memberi makan seadanya. Banyak pemilik memberi nasi atau sisa makanan rumah tangga, bahkan makanan instan murah yang tidak sesuai kebutuhan hewan. Akibatnya, banyak kasus gagal ginjal, obesitas, dan penyakit kulit yang muncul karena gizi buruk.
"Kami sering menerima pasien kucing dengan ginjal rusak akibat salah makan. Sama seperti manusia, kalau makan mi instan terus kan pasti bermasalah. Hewan juga butuh nutrisi lengkap,” kata Intan.
Meski demikian, dia menilai kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Semakin banyak pemilik yang datang untuk vaksinasi dan sterilisasi. “Dulu, vaksin saja masih banyak yang enggak tahu. Sekarang sudah mulai rutin. Tapi yang perlu diperbaiki adalah cara pandang, bahwa hewan bukan barang atau boneka,” jelasnya.
Sebagian pemilik juga masih menganggap membawa hewan ke dokter hanya perlu saat sudah sakit parah. Padahal, pemeriksaan rutin justru bisa mencegah penyakit lebih awal.
APC berdiri sejak 2018 dan kini menjadi salah satu klinik hewan yang dipercaya Samarinda. Selain melayani pasien pribadi, klinik juga menjadi tempat edukasi kesejahteraan hewan dan membantu banyak komunitas penyelamat hewan.
"Kami ingin membangun kesadaran bahwa pelihara hewan bukan sekadar tren. Harus ada empati, waktu, dan komitmen. Ketika memutuskan memelihara dan ingin dijadikan sebagai teman di rumah, ya tentu harus komitmen menyediakan kebutuhannya. Enggak ribet sebenarnya, memang harus komitmen,” tutup Intan.
Editor : Muhammad Ridhuan