Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Festival Ragam Seni Budaya Samarinda 2025, Generasi Muda Harus jadi Role Model Pelestarian Budaya

M Hafiz Alfaruqi • Senin, 10 November 2025 | 10:25 WIB
TERUS DILESTARIKAN: Festival Ragamsa 2025 di Rumah Adat Budaya Daerah Samarinda ditutup dengan manis.
TERUS DILESTARIKAN: Festival Ragamsa 2025 di Rumah Adat Budaya Daerah Samarinda ditutup dengan manis.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Setelah enam hari berlangsung meriah, Festival Ragam Seni Budaya Samarinda (Ragamsa) 2025 yang dihelat di Rumah Adat Budaya Daerah, Jalan Kadrie Oening, Kecamatan Samarinda Ulu, akhirnya ditutup.

Gelaran tersebut dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda. Penutupan menandai berakhirnya rangkaian agenda tahunan yang menjadi wadah ekspresi dan pelestarian budaya masyarakat Kota Tepian.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hadi Kusuma, mengatakan, Ragamsa tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat.

“Alhamdulillah, selama enam hari kegiatan, lebih 7 ribu pengunjung dan peserta yang hadir. Itu angka yang luar biasa dan membuktikan Samarinda adalah kota yang kondusif, serta memiliki semangat tinggi dalam melestarikan budaya,” ungkapnya saat dikonfirmasi Minggu (9/11).

Ragamsa 2025 menghadirkan berbagai kegiatan. Mulai workshop mendongeng yang diikuti sekitar 70 peserta, lomba olahraga tradisional dan permainan rakyat dengan lebih 200 peserta tingkat SD, lomba tari pesisir dengan 17 kelompok penampil, hingga lomba tradisi lisan seperti mendongeng (bekesah) dan “bemamai” yang mendapat sambutan hangat masyarakat.

“Ada penampilan sandiwara mamanda versi Gen Z yang ramai dikunjungi, serta lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Semua menunjukkan bahwa kebudayaan di Samarinda hidup dari segala lapisan usia dan kelompok,” sambung Barlin.

Puncak acara ditandai dengan Grand Final Pemilihan Duta Tari 2025, yang diharapkan mampu melahirkan figur muda yang tak hanya mencintai budaya, tetapi juga mampu menjadi influencer bagi generasi Z dan alpha dalam mempromosikan seni dan budaya melalui media sosial maupun event nasional dan internasional.

Dia turut mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat. “Para seniman, guru, siswa, sanggar seni, panitia, dan sponsor. Tanpa mereka, Ragamsa tak mungkin berjalan lancar,” ujarnya.

Lebih jauh, dia menegaskan bahwa semangat pelestarian budaya sejalan dengan Samarinda yang menuju pusat peradaban. “Kami berharap Samarinda bisa menjadi episentrum kebangkitan kebudayaan di Kalimantan Timur. Jika Samarinda maju, Kalimantan Timur juga akan maju, dan akhirnya Indonesia ikut maju,” sebutnya.

Ragamsa diharapkan bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. “Kalau umur panjang, insyaallah bertemu lagi di Ragamsa ketiga 2026,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#samarinda #ragam #budaya