Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sehari di Puskesmas Baqa, ketika Program CKG Mengubah Cara Orang Menjaga Kesehatan

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 15 November 2025 | 11:47 WIB

DETEKSI DINI: Chalimah saat menjalani pemeriksaan gigi di Puskesmas Baqa, Samarinda Seberang. Melalui CKG, masalah kesehatan gigi dan mulut berhasil diantisipasi lewat deteksi dini.
DETEKSI DINI: Chalimah saat menjalani pemeriksaan gigi di Puskesmas Baqa, Samarinda Seberang. Melalui CKG, masalah kesehatan gigi dan mulut berhasil diantisipasi lewat deteksi dini.

Pertengahan November, langkah Chalimah menuju Puskesmas Baqa terasa ringan. Dia tak datang karena keluhan. Tapi karena ingin memastikan tubuhnya masih dalam lindungan. Di hari ulang tahun, dia mendapat kado paling menenangkan. Kabar bahwa dirinya sehat, tanpa beban pikiran.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

PAGI itu, Samarinda masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap menemani antrean warga di pintu masuk pendaftaran Puskesmas Baqa, Jalan Lamadukelleng, Samarinda Seberang. Sebagian menimang anak, sebagian lagi larut dalam obrolan kecil. Di antara mereka, Chalimah duduk sambil menggenggam lembaran kertas.

Baca Juga: Pesan Tiket Liburan Tahun Baru Sekarang! Maskapai Kekurangan Armada, Puncak Arus Nataru Diperkirakan 19–20 Desember

Dia tidak punya keluhan, hanya ingin tahu kondisi tubuhnya. Kesadaran kecil yang membuka langkahnya pagi itu. “Saya mau CKG (Cek Kesehatan Gratis), katanya hadiah ulang tahun dari pemerintah,” ujarnya, Kamis (13/11) pagi. Sebagai kader posyandu, Chalimah sekalian mengantar akseptor KB yang ingin memanfaatkan layanan gratis hari itu. 

Sambil menunggu antrean terakhir dari rangkaian CKG di poli gigi, perempuan 35 tahun itu memerhatikan suasana puskesmas yang ramai namun tertib. Ketika namanya dipanggil, drg Erni Puspitasari menyambut ramah dan mempersilakannya duduk di kursi dental. Setelah pemeriksaan singkat, tidak ada masalah berarti. 

“Alhamdulillah enggak ada penyakit serius. Tekanan darah sempat tinggi sih, biasanya enggak pernah. Mungkin faktor cemas karena mau diperiksa dokter,” tuturnya lalu terkekeh pelan. Bagi Chalimah, hasil CKG itu seperti alarm kesehatan. Dia jadi sadar pentingnya menjaga pola makan dan istirahat. Informasi terkait CKG pun dia sebarkan termasuk ke teman-temannya di Pasar Loa Janan.

“Saya bilang jangan sampai ketinggalan. Gratis tapi manfaatnya besar banget,” ujar pedagang alat dapur itu. Menurutnya, program sederhana tersebut membuka kesadaran bahwa menjaga tubuh tak perlu menunggu gejala datang.

Kisah serupa datang dari Dony Rahmat Santoso, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pagi itu datang ke Puskesmas Baqa tepat di hari ulang tahun ke-48. Dia mengetahui CKG dari pesan WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Baca Juga: Resmi Pimpin FAJI Mahulu, Devung Paran Siapkan Lompatan Prestasi dan Pacu Wisata Arung Jeram

“Saya ingin tahu kondisi tubuh sendiri. Kalau ada yang perlu dijaga, bisa lebih waspada,” tuturnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada masalah serius. Informasi itu langsung dia bagikan ke anak dan istrinya di Balikpapan agar mereka juga memanfaatkan layanan serupa.

Dari antrean hingga ruang periksa, wajah-wajah lega bermunculan. Program CKG mungkin sederhana, tapi bagi warga seperti Chalimah dan Dony, layanan itu bukan sekadar pemeriksaan. Melainkan hadiah kecil yang menumbuhkan kesadaran besar. Bahwa menjaga diri tidak perlu menunggu rasa sakit menghampiri.

PERIKSA SEBELUM SAKIT

Di balik kesibukan warga dan tenaga kesehatan, ada sosok dr Opiansyah, kepala UPTD Puskesmas Baqa, yang memastikan layanan CKG berjalan setiap hari. Program yang awalnya bernama Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) itu diluncurkan sejak Februari.

“Pergantian nama itu penting. Karena kalau pakai kata pemeriksaan itu masyarakat mikirnya semacam medical check-up (MCU) total, padahal bukan. Makanya ganti jadi kata cek. Tujuannya untuk mendeteksi sedini mungkin,” terangnya.

CKG bukan sekadar layanan biasa. Program pencegahan itu dirancang sangat personal, dibagi berdasarkan kelompok usia. Mulai bayi dan balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia (lansia). Secara umum paket CKG meliputi pemeriksaan dasar vital.

Seperti pengecekan telinga, mata dan gigi. Tak lupa, pemantauan status gizi, pengukuran tekanan dan gula darah. Serta skrining dini tuberkulosis (TBC) juga menjadi bagian tak terpisahkan. Namun yang membuat CKG istimewa adalah sentuhan spesifik di setiap jenjang usia. 

Pada bayi dan balita yakni deteksi dini hormon tiroid, G6PD (defisiensi enzim), penyakit jantung bawaan, dan memantau kurva pertumbuhan.

Baca Juga: Sekkab PPU Merespons Cepat Isu Pegawai Nakal Hindari Retribusi Pelabuhan

Untuk anak usia SD, selain pengecekan dasar juga perhatian mulai diarahkan pada gaya hidup dengan skrining kebiasaan merokok serta tingkat aktivitas fisik. Pada remaja, pemeriksaan semakin mendalam dengan penambahan deteksi anemia dan edukasi kesehatan reproduksi. 

Usia dewasa, inilah fase penting deteksi penyakit degeneratif. CKG memprioritaskan deteksi dini kanker (termasuk pap smear untuk perempuan), skrining kesehatan mental serta deteksi dini risiko penyakit jantung dan stroke.

Pada lansia, layanan disempurnakan dengan pengecekan kolesterol, evaluasi fungsi indra serta deteksi khusus terhadap gangguan kardiovaskular. Menjadi langkah preventif yang proaktif. Program semula dikaitkan dengan hari ulang tahun warga agar mudah diingat. Namun kini bisa dilakukan kapan saja dalam tahun berjalan, bahkan tak perlu harus sesuai fasilitas kesehatan (faskes). 

“Tujuan awalnya memang untuk memicu ingatan. Biar tiap ulang tahun jadi momen refleksi kesehatan,” tambahnya.

Sosialisasi gencar dilakukan melalui media sosial, banner, hingga pesan WhatsApp. “Sekarang promosi paling cepat lewat teknologi. Kami aktif menyebarkan info CKG lewat platform digital, tapi juga lewat jaringan kader,” katanya. Program juga bergerak ke sekolah. 

Di wilayah kerjanya, ada 22 TK/PAUD, 12 SD, 4 SMP, dan 1 SMA. Hingga pertengahan November, 415 warga mendaftar CKG, dan 299 sudah diperiksa. “Itu baru untuk usia dewasa. Untuk anak sekolah, datanya masih dalam proses input karena jumlahnya pasti ribuan. Skrining mandiri juga sudah masuk datanya sekitar 70 persen,” jelasnya. 

Baca Juga: MTQ Ke-53 Kota Balikpapan Diikuti 415 Orang Peserta dan 9 Cabang Lomba

Namun, di balik capaian tersebut, dia tak menampik masih ada tantangan. “Kesadaran masyarakat masih rendah. Kadang ada yang bilang takut periksa, nanti ketahuan sakit. Padahal kalau tahu lebih awal, kita bisa intervensi lebih cepat,” tuturnya. 

Tantangan lain adalah karakter wilayah area puskesmas yang padat penduduk, mayoritas pedagang dan pekerja harian. Merasa sehat karena tidak punya keluhan, enggan meluangkan waktu. “Padahal justru itulah semangat CKG.

Memeriksa sebelum sakit,” tegasnya. Kini, pihaknya berencana melakukan jemput bola hingga akhir tahun. “Kami akan kolaborasikan dengan program kunjungan rumah bagi warga yang tak bisa datang sendiri,” kata dr Opiansyah.

DARI TEMUAN JADI TUJUAN

Di ruang kerjanya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda dr Ismid Kusasih menegaskan ulang makna CKG. “Tujuannya kan memang untuk mendeteksi,” ujarnya. CKG bukan sekadar program layanan gratis. Melainkan fondasi utama pencegahan yang sejalan dengan prinsip dasar dunia medis. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

“Makanya prinsip di dunia kesehatan itu begitu. Jangan sampai sudah sakit. Makanya biaya kesehatan itu yang paling mahal kalau sudah kuratif (penyembuhan),” tambahnya.

Dia juga mengurai posisi CKG dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM). “Jadi tugasnya Dinkes sebagai perpanjangan dari Kemenkes adalah melaksanakan 12 SPM kesehatan. Jadi ibaratnya kalau kita nih yang muslim, yang wajib dulu dijalankan, sunahnya mengikuti,” katanya.

SPM mencakup serangkaian layanan yang menyasar kelompok usia dari ibu hamil hingga lanjut usia. Sampai penanganan penyakit menular dan tidak menular seperti TBC, HIV, hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), hipertensi dan diabetes.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda dr Ismid Kusasih.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda dr Ismid Kusasih.

“Dengan kita mengadakan CKG, maka diharapkan 12 SPM itu bisa kita dapatkan juga,” tegasnya. Data sementara menunjukkan hipertensi sebagai temuan terbanyak untuk lanjut usia. “Nah, ketemu dengan hipertensi kan sekarang yang terbesar. Jadi sesuai dengan SPM,” lanjutnya. Namun tantangan terbesar bukan jenis penyakitnya, melainkan jumlah warga yang mau memeriksakan diri.

Dari 888.184 jiwa penduduk Samarinda (data semester I 2025), baru 33.596 yang melakukan CKG. Persentasenya 77,88 persen dari total 43.139 yang mendaftar di 26 puskesmas se-Samarinda hingga Jumat (14/11).

“Masih belum 10 persen. Tapi itu wajar. Bukan hanya Samarinda, semua daerah. Ini kan program baru,” kata dr Ismid. Secara nasional, hingga 4 November 2025, tercatat partisipasi publik hingga 53,6 juta pendaftar. Dengan 50,5 juta orang sudah diperiksa. 

Baca Juga: Kereta Garuda Kencana Muncul Lagi, Ini Persiapan Jumenengan Raja Baru Solo

“Program ini bukan hanya soal jumlah peserta, tapi bagaimana hasilnya kita gunakan untuk memperkuat kebijakan, layanan kesehatan, dan intervensi di masyarakat,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dilansir dari rilis resminya. Menkes menyebut jika CKG bukan sekadar pemeriksaan massal. Tapi juga merupakan instrumen strategis untuk deteksi dini dan tata laksana dini penyakit. 

Dikatakan dr Ismid, CKG yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo, ditargetkan setidaknya menjangkau sepertiga populasi Indonesia. Dia mengakui jika tantangannya adalah masih minimnya partisipasi masyarakat. Untuk menutup celah itu, Dinkes Samarinda mulai menggencarkan strategi jemput bola. 

“Jadi CKG tuh sekarang kita enggak bisa juga pasif. Jadi kita proaktif,” kata dr Ismid. Pihaknya kini aktif menyasar sekolah, hadir di berbagai event, hingga membuka layanan di titik-titik keramaian. Pemeriksaan dilakukan tuntas, tidak sekadar mengejar angka. “Misal pemeriksaan umur dewasa ada 10 item, mulai fisik sampai cek darah. Semuanya dikerjakan. Kita tidak ingin hanya kejar kuantitas,” tegasnya. 

Baca Juga: Cegah Kanibalisasi! Danantara Beberkan Alasan Garuda–Pelita Akan Digabung

CKG mungkin belum menyentuh semua warga. Mungkin pula masih dibayangi rasa takut akan hasil pemeriksaan. Namun dari Baqa hingga seluruh Samarinda, program itu perlahan membalik cara pandang. Menjaga diri bukan dimulai dari pengobatan, tapi dari keberanian untuk tahu lebih dulu. Di tengah budaya yang menunggu sakit, CKG hadir untuk mengingatkan. Langkah keciluntuk menyelamatkan masa depan. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#kementerian kesehatan (kemenkes RI) #Ismid Kusasih #samarinda #kementerian kesehatan #cek kesehatan gratis #Program CKG #Dinas Kesehatan Samarinda