KALTIMPOST.ID-Pemerintah pusat terus memperluas pesan positif mengenai program makanan bergizi gratis (MBG) ke berbagai daerah.
Di Kaltim, sosialisasi dilakukan melalui dukungan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian yang menggelar agenda pemahaman MBG di Gedung Serbaguna Pusrehut Universit Mulawarman, Sabtu (15/11).
Kegiatan itu dihadiri beragam peserta, mulai dari siswa, orang tua, guru, komite sekolah, mahasiswa hingga petugas SPPG sebagai pelaksana dapur gizi.
Dalam paparannya, Hetifah menegaskan MBG merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak sekolah sekaligus menekan angka stunting.
Ia mencatat masih banyak peserta didik yang datang ke sekolah tanpa sarapan atau mendapat asupan gizi yang tidak seimbang.
“Pendidikan yang baik tidak mungkin terwujud bila anak–anak belajar dalam kondisi lapar. MBG hadir sebagai langkah strategis agar tidak ada lagi pelajar yang kekurangan gizi,” ucapnya.
Hetifah juga menyoroti tantangan di daerah 3T dan keluarga berpenghasilan rendah yang kerap berhadapan dengan keterbatasan pangan.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada konsentrasi belajar, tingkat kehadiran, hingga prestasi akademik.
“Selain menyasar kesehatan siswa, MBG harus membawa dampak ekonomi melalui pemberdayaan UMKM dan petani lokal sebagai pemasok bahan makanan dapur SPPG,” ungkapnya.
Narasumber lain, Analis Madya Direktorat Promosi dan Edukasi Gizi BGN Alwi Supriyadi, menjelaskan bahwa SPPG bukan hanya memastikan tersedianya makanan bergizi tiap hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi dari sisi kebutuhan bahan baku.
Ia mencontohkan peluang bagi petani sayur lokal. “Kalau biasanya pedagang menjual 100 ikat sayur, dengan MBG bisa menjadi 700 sampai 1.000 ikat. Kalau satu ikat Rp 2.000, itu bisa jadi Rp 2 juta per orang. Ini membawa efek ekonomi besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Alwi menegaskan bahwa masyarakat dipersilakan menanam komoditas yang diperlukan dapur MBG, seperti bayam dan beragam sayuran lain.
Mekanisme penjualannya dapat dilakukan melalui koperasi, mitra, atau langsung ke SPPG.
“Bahan baku itu nanti dimasak dan kembali ke anak–anak dalam bentuk makanan bergizi. Siklus ekonominya berjalan, manfaat sosialnya juga besar,” tambahnya.
Ia turut memaparkan sasaran penerima MBG. Selain peserta didik, mulai PAUD, SD, SMP, SMA, pesantren hingga SLB tanpa membedakan status ekonomi.
Program itu juga menyasar kelompok non-peserta didik, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan perempuan usia subur. “Beberapa daerah sudah mulai berjalan,” terangnya.
Makanya, dia mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) teknis di tingkat provinsi dan kabupaten/kota melakukan pendataan melalui PKK dan posyandu.
Penyediaan makanan nantinya disalurkan melalui dapur MBG di wilayah masing-masing. “Lewat data yang baik, program ini bisa dirasakan manfaatnya lebih luas,” pungkasnya. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.