Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ekshumasi Kasus Kematian Remaja di Samarinda Sudah Dilakukan: Polisi Tunggu Hasil Tim Forensik

Eko Pralistio • Jumat, 21 November 2025 | 18:09 WIB

Pihak kepolisian pada Jumat pagi melakukan ekshumasi atau penggalian kubur jenazah remaja berinisial RA, warga Loa Janan Ilir.
Pihak kepolisian pada Jumat pagi melakukan ekshumasi atau penggalian kubur jenazah remaja berinisial RA, warga Loa Janan Ilir.
 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pihak kepolisian pada Jumat pagi (21/11/2025) melakukan ekshumasi atau penggalian kubur jenazah seorang remaja berinisial RA (14), warga Loa Janan Ilir. Dia diduga meninggal dalam keadaan tidak wajar.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Agus Setyawan membenarkan bahwa penggalian kubur sudah dilakukakn. Untuk perkembangan penyidikan, pemeriksaan saksi-saksi sudah dilakukan. Dan tentunya yang paling utama saat ini menunggu hasil dari tim forensik.

"Karenda dari tim forensik perlu menganalisa dari beberapa organ yang akan diambil dan akan dilaksanakan pemeriksaan secara laboratoris," ungkapnya, Jumat (21/11), di TPU Muslimin, Km 4 Loa Janan, Kutai Kartanegara (lokasi ekshumasi).

Agus menyebut sebanyak 7 saksi sudah dilakukan pemeriksaan. Di antara dari saksi-saksi itu ada yang melihat langsung. Namun dirinya belum bisa memastikan perkara itu apakah ada tindakan pidana.

"Ada beberapa orang, untuk saksi yang melihat pada saat kejadian tersebut ya, ada anak-anak yang teman dia bermain. Karena pada saat malam itu ada kejadian perkelahian. Jadi pada saat itu ada beberapa saksi temannya yang mana kegiatan tersebut, anak-anak tersebut bermain game online," tuturnya.

"Jadi di situ sudah kita laksanakan pemeriksaan, namun untuk keterkaitannya ini kita belum bisa memastikan. Kita menunggu pemeriksaan lanjut dari laboratoris," imbuhnya.

Agus kembali menegaskan, bahwa, kegiatan ekshumasi itu didasari laporan dari keluarga korban kepada Polresta. "Yang mana, diduga ada kaitannya dengan perkara pidana makanya kita untuk membuat terang suatu perkara tersebut apakah ada kaitannya dengan pidana atau tidak," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, RA dikabarkan meninggal dunia pada Senin (27/10) lalu. Rekan korban menganggap, kepergian remaja itu akibat perundungan yang dilakukan seorang siswa SD dengan tubuh lebih besar dan merupakan “pesilat cilik”.

 “Aku terima kepergianmu, tapi aku tak terima dengan cara kematianmu”. Tulisan itu membuat tante dari mendiang RA terkejut. Pasalnya, keluarga baru membuka ponsel saat malam ketiga pasca-kepergian korban

Sartia, ibu kandung RA, diajak keluarganya menemui keluarga yang diduga melakukan perundungan. Termasuk menghadirkan rekan korban sebagai saksi. “Karena lokasi kejadian dengan rumah itu jaraknya dekat. Hanya selisih rumah,” ungkapnya.

Sebelum anaknya meninggal, Sartia berpikir sakit kepala biasa. “Saya tanya mau makan dan minum, tapi lewat tengah malam dipanggil-panggil namanya enggak ada respons. Di situ saya panik. Sekitar pukul 00.30 Wita (27/10), nafasnya sudah seperti orang ngorok, pukul 01.00 Wita itu menghembuskan nafas terakhir,” imbuhnya.

Menurutnya, ada hal yang janggal. “Biasanya keluar main kalau pulang enggak masalah. Jadi begitu meninggal, saya bawa jenazah ke rumah orang tua saya. Tapi pukul 02.00 Wita itu mulutnya keluar buih dan darah. “Saat dimandikan saya ditanya, anak kamu dari mana, kok ada lebam. Saya cek apakah jatuh dari motor, tapi motor enggak ada lecet,” bebernya.

“Bola mata kirinya juga pas dimandikan itu agak keluar. Pas dikafani juga mulut masih berbuih. Yang kafani kan kakek saya, tapi dilihat wajahnya menguning. Itu belum ada curiga,” jelasnya.

Di malam ketiga pasca-kepergian mendiang RA, penyebab kematian tersebut perlahan terkuak. Tante dari Sartia mengecek handphone korban. Saat itu pula dia melihat status WhatsApp rekan korban. “Tulisannya, saya terima kepergianmu, tapi saya tidak iklhas dengan cara kematianmu. Di situ saya diajak bicara tante saya,” ceritanya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#loa janan ilir #kasus #kematian remaja #Polresta Samarinda