KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kembali memberikan apresiasi kepada masyarakat yang aktif mengelola lingkungan melalui Lomba Kampung Salai (Sampah Bernilai) Lestari 2025.
Sebanyak 10 Kampung Salai terbaik diumumkan dari total 18 kampung salai yang berpartisipasi, termasuk 3 ASN yang mendapat penghargaan sebagai pembina lingkungan terbaik. Penganugerahan digelar di Ballroom Hotel Puri Senyiur Samarinda, Selasa (25/11).
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menyampaikan rasa bangga atas gerakan sukarela masyarakat dalam mengelola sampah. Menurutnya, penghargaan itu bukan sekadar lomba, melainkan bentuk komitmen bersama untuk menjaga kota agar tetap bersih dan sehat.
“Kami ucapkan selamat kepada masyarakat yang mendapat penghargaan sebagai kampung salai, karena itu lahir dari hati dan kerelaan untuk mengelola sampah dengan baik,” ucapnya.
Pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat meliputi kategori plastik, organik, hingga residu. Tak hanya komunitas, ASN yang turut menjadi pembina lingkungan juga mendapat apresiasi karena turun langsung ke masyarakat di luar tugas kedinasan. “Harapan kami ASN dan masyarakat bisa meniru teman-teman ini. Siapa lagi yang membersihkan lingkungan kita kalau bukan kita,” tegas Saefuddin.
Pemkot terus mendukung partisipasi masyarakat menjaga lingkungan. Program gotong royong mingguan, edukasi pemilahan sampah, hingga ajakan turun bersama ke lapangan dinilai cukup efektif membangun kesadaran kolektif. “Dukungan masyarakat sangat positif. Samarinda ingin bersih, cantik, dan sehat. Kalau itu terus berjalan, insyaallah banjir berkurang, kota jadi lebih baik, kota baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur,” ucapnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso menegaskan, tujuan utama kegiatan itu bukan sekadar kompetisi atau hadiah. Lomba dirancang untuk menularkan kebiasaan pengelolaan sampah di tingkat RT.
“Tujuan utamanya bukan penghargaan, tapi menginternalisasi kebiasaan agar bisa menyebarkan ke RT lain. Sampah bernilai bukan hanya ekonomi, tapi sosial, budaya, dan juga bernilai ibadah,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sampah dari sumbernya akan mempermudah penanganan di hilir dan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain meningkatkan nilai ekonomi warga, budaya memilah sampah diyakini dapat memperkuat interaksi sosial melalui gotong royong.
Suwarso berharap gerakan Kampung Salai bisa diperluas ke seluruh kawasan Samarinda. “Harapan kami semua bisa melaksanakan mulai rumah tangga, komunitas terkecil, hingga kawasan perumahan TNI, Polri, dan pemukiman lain. Tidak hanya 18 kampung salai, tapi seluruh RT se-Samarinda dengan memanfaatkan program Probebaya,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A