Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

DPR Dorong Penguatan Budaya Riset, Hetifah-BRIN Dibekali Mahasiswa Keterampilan Penelitian Dasar

Denny Saputra • Rabu, 26 November 2025 | 14:06 WIB
POSITIF: Kegiatan Workshop riset dasar garapan Hetifah bersama BRIN dan Brida Kaltim bersama mahasiswa berbagai kampus di Samarinda, Rabu (26/11).
POSITIF: Kegiatan Workshop riset dasar garapan Hetifah bersama BRIN dan Brida Kaltim bersama mahasiswa berbagai kampus di Samarinda, Rabu (26/11).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perbaikan ekosistem inovasi nasional masih jadi pekerjaan panjang. Meski indeks inovasi Indonesia terus menanjak hingga menduduki peringkat 54 pada 2024, sederet tantangan tak bisa diabaikan.

Anggaran riset yang minim, sedikitnya riset terapan, kolaborasi antar-sektor yang lemah, dan kecenderungan aktivitas akademik yang tetap teoritis membuat DPR RI Komisi X menilai perlu ada percepatan terobosan di tingkat dasar, terutama sejak bangku perkuliahan.

Langkah itu diwujudkan melalui workshop keterampilan riset dasar untuk mahasiswa yang digelar di Samarinda, Rabu (26/1) di Harris Hotel Samarinda. Kegiatan yang menggandeng BRIN dan Brida Kaltim ini memfokuskan pelatihan pada penyusunan proposal, studi pustaka, dan pengenalan pola pikir ilmiah. Mahasiswa dari berbagai kampus hadir untuk mendapat pembekalan yang lebih aplikatif.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan riset adalah fondasi yang harus ditanam sejak awal masa studi. Ia memaparkan bahwa kemampuan meneliti bukan hanya kebutuhan akademik, tapi bekal karier.

“Mahasiswa perlu memperluas wawasan bidang studinya, melatih berpikir kritis, dan meningkatkan kepekaan terhadap persoalan sosial maupun ilmiah. Riset juga membuka peluang beasiswa, magang, hingga kompetisi ilmiah,” ujarnya.

Ia menilai sejumlah hambatan memang kerap ditemui mahasiswa, yakni akses laboratorium dan literatur yang terbatas, kesulitan merancang eksperimen yang valid, tantangan mengumpulkan data bebas bias, hingga kompleksitas analisis statistik.

Di masa teknologi, ujar Hetifah, penggunaan AI dapat menjadi pintu awal membantu mahasiswa memahami struktur laporan hingga menyusun kerangka penelitian secara lebih efisien tanpa mengurangi integritas ilmiah.

“Ada etika dalam penggunaan AI ini, tetapi jangan hanya mengcopy-paste hasil keluaran AI tanpa pengolahan. Agar periksa setiap klaim empiris dan pastikan sitasi (sumber) berasal dari sumber primer,” singkatnya.

Kepala Brida Kaltim Fitriansyah melihat kegiatan ini sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali ketertarikan generasi muda terhadap dunia ilmiah. Ia menyebutkan mahasiswa sebenarnya memiliki kapasitas berpikir kritis yang kuat, namun stimulasi dan wadahnya belum optimal.

“Sekarang banyak yang menganggap dunia riset kurang menarik. Padahal cara berpikir ilmiah harus terus dipupuk. Workshop ini salah satu sarana untuk itu,” ucapnya.

Brida Kaltim sendiri memiliki target besar, mencetak 1.000 periset pelajar di Kaltim. Program yang dijalankan tiga tahun terakhir telah mengumpulkan 130 hingga 140 karya riset pelajar setiap tahun melalui berbagai lomba inovasi.

Fitriansyah menilai kolaborasi dengan Komisi X, termasuk lewat inisiasi Hetifah, menjadi dorongan moral dan struktural bagi daerah dalam membangun ekosistem riset yang lebih kuat.

“Kami berharap semakin banyak mahasiswa yang berani menjajal dunia penelitian, meski jalannya tak selalu mudah. Menjadi periset memang butuh usaha besar. Tapi ini pekerjaan yang menyenangkan. Kami ingin semakin banyak generasi muda tercetus keinginan menjadi periset,” tegasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#anggaran minim #Komisi X DPR RI #riset terapan #hetifah sjaifudian