KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Usai kejadian bocah 10 tahun duduk di bangku sekolah dasar yang mengalami patah kaki saat bermain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda mengeluarkan imbauan kepada seluruh guru agar memperketat pengawasan terhadap siswa, terutama saat jam bermain.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, mengatakan kasus tersebut menjadi pengingat bagi sekolah-sekolah agar lebih waspada terhadap potensi bahaya yang tidak disadari anak-anak.
Baca Juga: Selama 11 Bulan, Ribuan Orang Diamankan Karena Narkotika, Sabu yang Disita Capai seratus Kilogram
“Ini jadi pelajaran. Anak-anak usia kecil meski tidak mengerti soal kekerasan, tetap harus dijaga agar tidak membahayakan teman ataupun diri sendiri,” kata Asli, Jumat (28/11).
Dia menilai pentingnya sosialisasi bagi siswa yang lebih besar mengenai fungsi Tim Anti Kekerasan dan larangan perilaku yang masuk kategori perundungan.
“Untuk yang lebih besar harus diberi pemahaman soal mengolok, menghina, dan membully. Itu tidak boleh dilakukan, baik secara moral, agama, maupun etika,” jelasnya.
Kasus dugaan kekerasan anak itu sudah selesai. Aslinya menyebutkan, orang tua kedua belah pihak telah dihubungi dan sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Korban yang dirawat di rumah sakit juga telah dibantu biaya pengobatannya oleh keluarga anak yang menyebabkan cedera.
“Kami tetap mengingatkan sekolah agar lebih menyatukan anak-anak saat bermain. Namanya anak kecil, mereka tidak paham risiko. Guru harus meningkatkan pengawasan,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie