KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setiap 1 Desember, dunia berhenti sejenak untuk mengingat satu hal penting. Yakni perjuangan panjang melawan HIV/AIDS. Peringatan Hari AIDS Sedunia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi tentang mereka yang berjuang, mereka yang bertahan, dan mereka yang telah pergi.
Peringatan ini pertama kali ditetapkan WHO pada 1988, di masa ketika 90–150 ribu orang didiagnosis HIV. Angka itu bahkan memuncak pada 1997, mencapai sekitar 3,3 juta kasus.
Di Samarinda, momen refleksi ini punya wajah dan cerita sendiri. Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr Ismed Kusasih, membuka data terkini. Hingga Oktober 2025, sebanyak 2.225 pasien HIV telah dalam penanganan, sementara kasus baru sepanjang 2025 mencapai 444 orang. Yang menyedihkan, 98 pasien meninggal hingga Oktober tahun ini.
“Karena HIV ini termasuk satu dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan, maka kita wajib memastikan seluruh layanan berjalan. Tapi jangan lupa, HIV tidak bisa ditangani Dinkes sendiri. Ini erat dengan perilaku, jadi perlu kolaborasi, seperti saat penanganan Covid dulu,” ujar Ismed, Senin (1/12).
Baginya, kunci terbesar berada pada satu hal, yakni deteksi dini. Semakin cepat teridentifikasi, semakin cepat pula pengobatan bisa dilakukan dan risiko kematian ditekan. “Motto kita di Hari AIDS Sedunia tetap sama: jangan jauhi orangnya, jauhi penyakitnya,” tambahnya.
Soal penyebab, secara terbuka Ismed menyebut hubungan seksual sebagai faktor terbesar. “Usia dewasa paling dominan. Yang terbanyak itu perilaku menyimpang, seperti sesama jenis, termasuk ibu rumah tangga juga ada," katanya.
Ketika ditanya soal kasus di bawah umur, Ismed mengangguk. “Ada. Datanya nanti saya mintakan,” ujarnya.
Screening pun dilakukan dengan menyasar kelompok rentan, termasuk sejumlah komunitas. Namun tahun ini, suplai bantuan obat dan penanganan HIV dari sumber global tak sebanyak sebelumnya. Tahun depan pun belum pasti.
Meski begitu, layanan tetap digencarkan. Sebanyak 26 puskesmas di Samarinda kini sudah bisa memberikan pengobatan HIV. “Klinik swasta dan rumah sakit juga turut menangani. Di hilir kita kerahkan semua kemampuan. Tapi di hulu, harus kolaborasi,” tegasnya.
Banyak pasien baru terdeteksi ketika kondisinya sudah menurun. Biasanya mereka datang ke fasilitas kesehatan karena keluhan lain. Tes darah kemudian mengungkapkan infeksi HIV. Itulah sebabnya HIV sering berjalan diam tanpa gejala jelas, hingga berubah menjadi AIDS ketika imunitas benar-benar melemah.
“HIV itu sering muncul bersama penyakit lain, terutama TBC. Karena penurunan daya tahan tubuh, keduanya saling terkait,” jelas Ismed.
Dalam skema SPM, HIV dan TBC masuk sebagai dua penyakit menular prioritas karena tingginya kasus dan kematian. Meski program nasional saat ini memberi fokus lebih besar pada TBC, bahkan disiapkan perda khusus HIV tetap tak boleh diremehkan.
“Samarinda dan Balikpapan menempati posisi tertinggi kasus HIV di Kaltim. Selain karena jumlah penduduk besar, kita juga melakukan screening lebih baik,” ungkapnya. (*)
Editor : Sukri Sikki