Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

AI Dorong Transformasi Kampus, Hetifah Ajak Mahasiswa Siap Hadapi Pasar Kerja Digital

Denny Saputra • Rabu, 3 Desember 2025 | 17:09 WIB

 

DUKUNGAN: Jajaran civitas akademika kampus UWGM bersama mahasiswa dalam workshop pemanfaatan AI untuk Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di kampus UWGM, Rabu (3/12).
DUKUNGAN: Jajaran civitas akademika kampus UWGM bersama mahasiswa dalam workshop pemanfaatan AI untuk Transformasi Pembelajaran Perguruan Tinggi di kampus UWGM, Rabu (3/12).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Kemajuan teknologi seharusnya mendorong lahirnya lebih banyak inovasi di dunia pendidikan. Termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat transformasi pembelajaran di perguruan tinggi.

Gagasan itu menjadi materi utama dalam workshop yang digelar Anggota Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian bersama kementerian terkait, di Ruang Serbaguna Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, Rabu (3/12). Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam paparannya, Hetifah menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus siap menghadapi perubahan pasar kerja digital. Perubahan itu didorong oleh disrupsi teknologi, pergeseran kebutuhan tenaga kerja, investasi global di bidang AI, hingga evolusi kompetensi yang kini menuntut literasi digital lebih tinggi. “Di banyak sektor, adopsi AI di perusahaan sudah menjadi standar. Dunia pendidikan tidak bisa berdiri diam,” ujarnya.

Hetifah menilai kampus perlu bergerak lebih cepat untuk mengintegrasikan AI, namun adaptasi ini harus dibarengi peningkatan kompetensi digital mahasiswa dan dosen. Indonesia, katanya, menargetkan menjadi pemain penting transformasi digital Asia Tenggara pada 2045. Ia mencatat, sekitar 93,4 persen institusi pendidikan tinggi di Indonesia telah mulai menerapkan AI, sementara 92 persen kampus sudah menjalankan pembelajaran hibrida. “Ini menunjukkan penerimaan yang luas terhadap metode belajar fleksibel,” kata Hetifah.

Meski demikian, tantangannya tidak ringan. Infrastruktur, kualitas SDM, biaya investasi, regulasi, hingga budaya kerja menjadi hambatan yang masih sering ditemui. Karena itu, Hetifah mendorong mahasiswa dan dosen untuk memanfaatkan AI secara cerdas.

“Prinsipnya, jadikan AI sebagai asisten aktif, bukan pengganti. Gunakan AI untuk pekerjaan berulang, sementara waktu berpikir harus tetap menjadi milik manusia,” tegasnya.
AI, menurutnya, juga bisa dimanfaatkan untuk studi literatur, riset, hingga analisis data, dengan catatan risiko seperti hallucination, plagiarisme, kebocoran data, dan ketergantungan tetap diantisipasi. “Jadikan AI sebagai alat yang mempermudah tugas dan memicu ide kreatif,” pungkasnya.

Rektor UWGM Prof Husaini Usman menyambut baik penyelenggaraan workshop tersebut. Ia menegaskan bahwa peningkatan mutu dosen dan mahasiswa hanya bisa dicapai bila seluruh civitas akademika mampu beradaptasi dengan teknologi baru. “Karena sekarang kita banyak menggunakan AI, semua pihak harus siap. Jangan sampai AI yang membatasi kita, tapi justru membantu produktivitas,” tegasnya.

Selain pemaparan dari Hetifah, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber Dekan Fakultas Teknik dan Informatika UWGM Sulung Alfianto dan Kepala SMK Plus Melati Samarinda Muji Hariandi. Mereka berbagi pengalaman mengenai implementasi AI di kampus dan sekolah menengah, termasuk peluang dunia usaha dan riset serta praktik pembelajaran berbasis teknologi. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Pemanfaatan AI #UWGM Samarinda #Hetifah Sjaifuddian