KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Perum Bulog Cabang Samarinda memastikan ketersediaan stok beras menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dalam kondisi aman dan mencukupi.
Saat ini, total stok beras medium yang dikuasai Bulog Samarinda mencapai sekitar 6.300 ton, dan dipastikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga lima bulan ke depan.
Hal tersebut disampaikan Asisten Manajer Supply Chain dan Pelayanan Publik (SCPP) Bulog Samarinda Ahmad Syaulani, saat mendampingi inspeksi mendadak (sidak) bahan kebutuhan pokok di sejumlah titik perbelanjaan, termasuk Gudang Bulog Samarinda, Rabu (10/12).
Menurut Ahmad, dari total stok yang ada, estimasi penyaluran untuk program bantuan pangan maupun Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar 1.200 ton. Dengan perhitungan tersebut, stok beras Bulog Samarinda dinilai cukup untuk melayani kebutuhan enam daerah di wilayah kerja Bulog Samarinda.
“Wilayah yang kami layani meliputi Samarinda, Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu. Dengan stok itu, aman untuk sekitar lima bulan ke depan,” jelasnya, Rabu (10/12).
Terkait komposisi stok, Ahmad menjelaskan Bulog menerapkan sistem FIFO (First In, First Out), yakni beras yang lebih dulu masuk akan lebih dulu disalurkan. Pada awal tahun, stok Bulog Samarinda didominasi beras impor. Namun, saat ini pasokan beras dalam negeri mulai mendominasi distribusi. “Di awal tahun memang banyak beras impor yang masuk. Sekarang sudah mulai bergeser ke beras produksi dalam negeri,” ujarnya.
Untuk beras impor, Bulog Samarinda saat ini masih memiliki stok yang berasal dari beberapa negara, seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam. Sementara itu, beras dalam negeri berasal dari berbagai daerah, termasuk produksi lokal Samarinda dan Kutai Kartanegara. Selain itu, Bulog juga menerima pasokan dari daerah sentra produksi lain melalui skema pembinaan stok nasional.
“Untuk dalam negeri, selain Samarinda dan Kukar, ada juga pasokan dari Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Bulog Samarinda optimistis ketersediaan beras tetap terjaga dan mampu menopang kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang momentum akhir tahun hingga awal 2026. Ahmad juga menegaskan, Bulog akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di pasaran. (*)
Editor : Dwi Restu A