KALTIM POST, SAMARINDA-Perumda Varia Niaga Samarinda terus diarahkan untuk memperkuat efisiensi operasional seiring tantangan pengelolaan bisnis pada 2026 mendatang. Hal tersebut mengemuka dalam paparan manajemen Varia Niaga di hadapan Wali Kota Samarinda, Selasa (16/12).
Direktur Utama Perumda Varia Niaga Samarinda Syamsuddin Hamade mengatakan, terdapat sejumlah catatan dan evaluasi dari pertemuan sebelumnya yang disampaikan wali kota, khususnya terkait penyajian laporan keuangan dan rencana bisnis 2026.
“Sesuai mandatory, ada beberapa perbaikan, terutama terkait penyajian laporan keuangan dan rencana bisnis 2026. Alhamdulillah, sudah diperbaiki dan sudah diberikan tanggapan Pak Wali Kota,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Syamsuddin menegaskan Perumda Varia Niaga masih berada pada jalur yang tepat (on the track) dalam menjalankan perannya sebagai badan usaha milik daerah. Dia menyebut, Varia Niaga terus didorong hadir membantu pemerintah kota, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Khususnya di bidang ekonomi, menjaga inflasi, ketahanan pangan, pemberdayaan dan optimalisasi aset-aset pemerintah yang bisa dikembangkan secara bisnis, serta berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD),” jelasnya.
Namun, wali kota kembali memberikan catatan agar perusahaan lebih cermat dalam menjaga efisiensi operasional, mengingat tantangan pengelolaan BUMD pada 2026 akan semakin besar. “Catatannya agar lebih memikirkan efisiensi. Tahun 2026 tantangannya ada di efisiensi, sehingga kami diminta betul-betul menjaga angka-angka efisiensi agar operasional perusahaan tidak membengkak,” kata Syamsuddin.
Terkait dampak efisiensi terhadap program, termasuk pengelolaan kawasan Citra Niaga, Syamsuddin menegaskan prinsip efisiensi bukan berarti menekan pertumbuhan bisnis. Menurutnya, peningkatan aktivitas usaha memang akan diikuti kenaikan biaya operasional, namun yang terpenting adalah menjaga rasio kinerja keuangan tetap sehat.
“Dalam bisnis, semakin tinggi aktivitas, tentu cost juga mengikuti. Tapi efisiensi itu yang dijaga adalah rasionya, bukan semata angkanya. Biaya boleh meningkat, tetapi rasio terhadap laba juga harus tetap tinggi,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A