Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kebakaran Samarinda Turun 30 Persen Sepanjang 2025, Catat! Ini Penyebab Paling Dominan

Eko Pralistio • Kamis, 18 Desember 2025 | 15:03 WIB
JADI PERHATIAN: Kebakaran di Samarinda mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (DOK/KP)
JADI PERHATIAN: Kebakaran di Samarinda mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (DOK/KP)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Samarinda mencatat adanya penurunan jumlah kejadian kebakaran sepanjang 2025. Total kebakaran tercatat sebanyak 185 kejadian, turun dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Disdamkarmat Samarinda Hendra AH menyebut, pada 2024, jumlah kebakaran mencapai 266 kejadian. Penurunan terjadi sekitar 30,45 persen. “Total kejadian kebakaran dari awal Januari hingga saat ini di 2025 ada 185 kasus. Tahun 2024 itu 266 kejadian, jadi ada penurunan cukup signifikan,” kata Hendra, Kamis (18/12).

Berdasarkan data tersebut, lanjut dia, penyebab kebakaran paling dominan di Samarinda masih berasal dari korsleting listrik atau arus pendek. Selain itu, beberapa faktor lain juga turut menjadi penyumbang penyebab kejadian tersebut.

“Yang paling banyak itu akibat korslet listrik. Selebihnya karena kompor ditinggal atau kebocoran gas,” ujarnya.

Dari sisi waktu, kebakaran paling banyak terjadi pada Juli dengan 25 kejadian. Disusul Agustus 21 kejadian, Maret dan Juni masing-masing 18 kejadian, serta November 17 kejadian.

Kemudian pada Januari tercatat 16 kejadian, Februari dan April masing-masing 14 kejadian, Mei 13 kejadian, dan Oktober 9 kejadian. Sementara pada September dan awal Desember tercatat sekitar 10 kejadian kebakaran.

Untuk menekan angka kebakaran ke depan, Hendra menegaskan, akan memperkuat upaya mitigasi dan pencegahan, bukan hanya bertindak saat kejadian sudah terjadi. “Kebakaran itu tidak hanya soal reaktif saat kejadian, tapi bagaimana upaya mitigasi dari hulunya. Sosialisasi, edukasi, dan simulasi itu yang penting,” jelasnya.

Dia menilai, masih banyak masyarakat yang belum sadar akan bahaya kebakaran, termasuk abai menyediakan alat pemadam api ringan (APAR). Kondisi tersebut kerap membuat warga panik saat kebakaran terjadi sehingga api cepat membesar.

“Intinya kesadaran dulu terhadap bahaya kebakaran. Kalau sudah aware, risikonya bisa ditekan,” pungkas Hendra. (*)

Editor : Dwi Restu A
#signifikan #turun #samarinda #kebakaran