SAMARINDA - Di tengah sorotan soal banjir di kawasan Sempaja, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menekankan pendekatan ganda dalam pembangunan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II (AMS II). Penanganan banjir dilakukan melalui normalisasi DAS dan sungai utama, sementara bangunan rumah sakit dirancang memiliki sistem drainase dan sumur resapan berkapasitas besar. Desain tersebut diklaim untuk menjaga fungsi resapan dan mencegah penambahan debit banjir.
Kepala DPUPR Pera Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda menjelaskan, desain bangunan RSUD AMS II yang akan dibangun telah mempertimbangkan sistem pengendalian air. Gedung dirancang memiliki jaringan drainase dan sumur resapan yang terhubung langsung dengan seluruh talang bangunan.
“Total daya tampung sumur resapan yang kami siapkan sekitar 12.110 meter kubik,” jelasnya, beberapa waktu lalu.
Dia menerangkan, pada lahan eksisting seluas 1,3 hektare yang tengah diurug dengan rata-rata kedalaman satu meter, disebut memiliki kemampuan tangkapan air mencapai 13.000 meter kubik. Kapasitas tersebut dinilai mampu menahan limpasan air hujan sebelum dialirkan secara bertahap ke sistem drainase kawasan.
“Jadi secara desain, fungsi resapan tetap dijaga dan diperkuat,” terangnya.
Firnanda menegaskan, perhatian Pemprov Kaltim terhadap kawasan DAS Sempaja bukan baru dilakukan saat ini. Salah satunya dengan menyediakan lahan seluas 1,15 hektare untuk pembangunan Embung Sempaja yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) pada 2019 lalu.
“Itu bagian dari komitmen jangka panjang penanganan banjir,” tegasnya.
Pada tahun ini, Pemprov Kaltim juga melakukan normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM) sebagai outlet DAS Sempaja. Normalisasi dilakukan dari Jembatan PM Noor hingga Jembatan Gelatik sepanjang 2,2 kilometer.
“SKM ini merupakan muara aliran dari DAS Sempaja, sehingga harus dipastikan kapasitasnya memadai,” singkatnya.
Tak hanya itu, normalisasi DAS Sempaja juga dilakukan dari Jembatan Perum Rapak Binuang hingga Jembatan Jalan Perjuangan sepanjang satu kilometer. Pekerjaan berlanjut dari Jembatan Jalan Perjuangan hingga Jalan Wahid Hasyim sepanjang 1,2 kilometer, termasuk normalisasi drainase di kawasan GOR Kadrie Oening.
“Ini bukti selama ini kami serius menangani banjir di Samarinda, termasuk di DAS Sempaja,” tegas Firnanda.
Sementara terkait rencana penyelesaian drainase di sisi kanan Jalan PM Noor yang masih terputus-putus, Firnanda berharap dukungan Pemerintah Kota Samarinda. Pasalnya, masih terdapat beberapa titik yang terkendala pembebasan lahan, salah satunya di depan SPBU Jalan PM Noor.
“Kalau lahannya tersedia, kami siap membangun. Drainase ini penting karena bisa membagi beban DAS Sempaja dan mengalirkan air ke Sungai Karang Mumus,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan