Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tempias Hujan di Lantai 6 Pasar Pagi Jadi Evaluasi, PUPR Akui Belum Masuk di Perencanaan Awal Pembangunan, Harus Keluar Duit Lagi?

M Hafiz Alfaruqi • Selasa, 6 Januari 2026 | 10:44 WIB
EVALUASI: Area kios pedagang di lantai 6 Pasar Pagi terdampak tempias air hujan saat cuaca ekstrem. Air masuk dari sisi bangunan yang terbuka. HAFIZ/KP
EVALUASI: Area kios pedagang di lantai 6 Pasar Pagi terdampak tempias air hujan saat cuaca ekstrem. Air masuk dari sisi bangunan yang terbuka. HAFIZ/KP

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kejadian masuknya rembesan tempias air hujan ke bangunan Pasar Pagi Samarinda, khususnya di lantai 6 bagian kanan, saat cuaca ekstrem pada Sabtu (3/1) lalu, menjadi perhatian serius Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda. Peristiwa tersebut dilaporkan sejumlah pedagang terdampak pada proses pengisian kios dan penataan barang dagangan.

Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda Desy Damayanti menjelaskan, kejadian tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang dari sisi tertentu bangunan, yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam perencanaan awal.

“Secara perencanaan struktur, kami memang tidak menghitung posisi air hujan yang datang dari sudut samping akibat angin besar. Yang dihitung itu intensitas hujan secara umum, bukan hujan dengan tekanan angin dari samping seperti kejadian kemarin,” ujar Desy, Senin (5/1).

Area yang terdampak tempias berada di sisi kanan bangunan Pasar Pagi yang mengarah ke Jalan Pandai. Kondisi tersebut diperparah karena di sisi tersebut tidak ada bangunan lain yang dapat menahan hembusan angin. “Kenapa yang terdampak itu sisi kanan, karena bangunan di sampingnya masih kosong dan anginnya lumayan kencang. Kalau sisi kiri tidak terdampak, karena di sana banyak bangunan,” jelasnya.

Terkait usulan pemasangan kanopi sebagai solusi, Desy menyebut opsi tersebut masih menjadi bahan pertimbangan serius karena menyangkut estetika bangunan pasar. “Kalau dipasang kanopi di sisi kanan saja, bangunannya jadi tidak simetris dan secara estetika tidak bagus,” kata Desy.

Selain itu, pemasangan kanopi dinilai berpotensi menimbulkan persoalan baru. Limpasan air dari kanopi dikhawatirkan justru mengarah ke bangunan sebelahnya, yang bisa memicu keberatan dari pemilik bangunan di sekitar pasar. “Kalau kanopi miring, limpasan airnya bisa ke mengarah ke bangunan sebelah. Itu akan menambah masalah lagi,” ujarnya.

Desy menambahkan, opsi lain seperti menutup sisi bangunan juga memiliki konsekuensi, salah satunya mengurangi pencahayaan alami di dalam pasar. Karena itu, PUPR belum mengambil keputusan final dan akan terlebih dahulu melakukan kajian teknis.

“Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kami akan sampaikan dulu ke tim teknis, kemudian dipresentasikan ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Bapak Wali Kota,” pungkasnya.

PUPR Kota Samarinda memastikan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan bangunan, agar kenyamanan pedagang dan pengunjung Pasar Pagi tetap terjaga, terutama saat cuaca ekstrem. (*)

Editor : Dwi Restu A
#air masuk #evaluasi #pasar pagi