SAMARINDA - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan kondisi hama ulat bulu pada pohon rambai laut di tepian Sungai Mahakam, tepatnya di sekitar Taman Bebaya, kecamatan Sungai Kunjang relatif aman dan terkendali. Intensitas kemunculan ulat bulu dilaporkan menurun signifikan dibandingkan akhir tahun lalu.
Pemkot bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan BPBD telah melakukan berbagai upaya mitigasi. Langkah yang ditempuh di antaranya penyemprotan pestisida secara berkala untuk menekan populasi ulat bulu di kawasan ruang terbuka hijau (RTH) tersebut.
Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Pertamanan, DLH Samarinda Basuni mengatakan kondisi ulat bulu di Taman Bebaya saat ini jauh lebih terkendali dibandingkan November dan Desember 2025. Pemantauan rutin dilakukan sejak akhir tahun hingga pergantian tahun baru.
“Kalau kondisi hari ini, ulat bulu jauh lebih menurun dibanding bulan November dan Desember. Kami juga sudah bekerja sama dengan BPBD melakukan penyemprotan di bulan Desember, dan sejak awal tahun terus kami pantau,” ujarnya dikonfirmasi, Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan terakhir pada 5 Januari 2026, pengelola taman menilai kawasan Taman Bebaya masih aman untuk dikunjungi masyarakat. Meski demikian, pengunjung tetap diimbau waspada karena di beberapa titik masih ditemukan ulat bulu, namun dalam jumlah terbatas.
“Taman Bebaya dikatakan aman untuk pengunjung, tapi tentu kami tetap memberi imbauan agar berhati-hati. Masih ada ulat bulu di beberapa tempat, hanya saja tidak seperti kondisi bulan November dan Desember,” jelasnya.
Basuni menambahkan, dampak ulat bulu terhadap masyarakat berbeda-beda, tergantung tingkat sensitivitas masing-masing individu. Bahkan di internal petugas taman, ada pengawas yang sangat sensitif terhadap ulat bulu sehingga menjadi indikator awal jika kondisi dianggap membahayakan.
“Petugas pengawas taman kami itu paling sensitif. Kalau kondisi membahayakan, biasanya beliau kena duluan. Tapi hari ini, petugas lain aman, saya sendiri juga tidak ada masalah,” sebutnya.
Menurutnya, secara visual dan kondisi lapangan, keberadaan ulat bulu saat ini tidak lagi menunjukkan potensi bahaya serius. Upaya pembasmian yang dilakukan DLH bersama BPBD melalui penyemprotan dinilai efektif dan akan terus dilakukan jika ditemukan peningkatan populasi.
“Upaya pembasmian dengan penyemprotan, baik oleh DLH sendiri maupun bersama BPBD, menurut kami efektif. Kalau ada pengaruh atau muncul lagi, langsung dilakukan penyemprotan,” tambahnya.
Basuni juga menyebut, kemunculan ulat bulu bersifat musiman dan tidak terjadi sepanjang tahun. Pola serupa pernah terjadi pada 2023 dan kembali muncul pada akhir 2024 hingga awal 2025, namun dengan tren penurunan di bulan Januari.
“Kalau hari ini, kami menilai Taman Bebaya masih layak dikunjungi dengan catatan berhati-hati, karena respons setiap individu terhadap ulat bulu berbeda-beda,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan