KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan di Samarinda. Meski pengembangan RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat, peningkatan layanan kesehatan tetap berjalan.
Manajemen rumah sakit memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak berhenti di tengah dinamika proses investasi. Pengembangan dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan dukungan pemerintah pusat dan APBD.
Direktur RSUD IA Moeis, dr Osa Rhafsodia, mengatakan rumah sakit pelat merah tersebut mendapat dukungan alat kesehatan dari Kementerian Kesehatan sepanjang 2026–2027. Selain itu, Pemkot Samarinda tetap menunjukkan komitmen penguatan layanan meski berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
“Alhamdulillah, walaupun KPBU belum berjalan, Pak Wali tetap mengalokasikan APBD tahun ini untuk penambahan ruang rawat inap, dan Samarinda juga mendapat dukungan alat kesehatan dari Kemenkes senilai sekitar Rp120 miliar, mulai tahun ini sampai tahun depan,” ujarnya.
Dukungan alat kesehatan tersebut akan memperluas jenis layanan medis yang tersedia di RSUD IA Moeis. Sejumlah layanan unggulan bahkan mulai direalisasikan dalam waktu dekat untuk menjawab kebutuhan pasien rujukan di Samarinda dan sekitarnya.
“April nanti kita sudah bisa pasang ring jantung, kita juga akan punya alat mamografi untuk deteksi kanker payudara, dan CT scan tambahan,” kata Osa.
Saat ini, RSUD IA Moeis memiliki kapasitas eksisting sekitar 245 tempat tidur. Pada semester kedua tahun ini, jumlah tersebut akan bertambah seiring mulai beroperasinya gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara bertahap sejak Februari, dengan tambahan sekitar 53 tempat tidur.
Namun, Osa menegaskan bahwa peningkatan bertahap tersebut belum sebanding dengan lompatan layanan yang diharapkan melalui skema KPBU. Menurutnya, KPBU dirancang untuk meningkatkan kapasitas layanan secara signifikan, baik dari sisi tempat tidur, dokter spesialis, maupun akses layanan kesehatan berstandar internasional.
“Kalau sekarang peningkatannya mungkin dua sampai tiga kali lipat, tapi lewat KPBU harapannya bisa melonjak jauh, sehingga bukan hanya melayani warga Samarinda, tapi juga pasien dari luar daerah bahkan luar provinsi, khususnya untuk layanan kanker,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani