KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda mencatat, masih terjadi kekurangan tenaga pendidik di sekolah negeri pada jenjang pendidikan formal.
Hingga awal 2026, kekurangan guru mencapai 684 orang, termasuk yang akan memasuki masa pensiun tahun ini.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Samarinda Taufiq menjelaskan, jumlah guru negeri saat ini untuk jenjang TK sebanyak 51 orang, SD negeri 2.845 orang, dan SMP negeri 1.442 orang. Total guru pada pendidikan formal negeri mencapai 4.338 orang.
“Sementara formasi ideal guru dari TK, SD, hingga SMP negeri sebanyak 4.849 orang. Jadi saat ini kami masih kekurangan 511 guru, ditambah 173 guru yang akan pensiun secara bertahap sepanjang 2026. Sehingga kebutuhan guru hingga akhir tahun mencapai sekitar 684 orang.” ungkapnya, Selasa (27/1).
Secara status kepegawaian, lanjut Taufiq, jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk guru sebenarnya telah terpenuhi sesuai formasi yang tersedia. Total ASN guru, baik PNS maupun PPPK, berjumlah 4.849 orang. Bahkan, pada tahun lalu Pemkot Samarinda telah mengangkat lebih dari 900-950 tenaga guru PPPK.
Namun, kebutuhan guru terus meningkat seiring fluktuasi jumlah rombongan belajar (rombel) di sekolah-sekolah. “Berdasarkan hasil rekonsiliasi data terakhir, hingga akhir Desember 2026 kami masih membutuhkan 684 guru,” jelasnya.
Terkait skema pemenuhan kekurangan tersebut, Disdikbud masih berkoordinasi dengan organisasi terkait serta BKPSDM Samarinda. Opsi pengangkatan masih terbuka melalui jalur PPPK, PNS, maupun PJLP (Penyedia Jasa Lainnya Perorangan) yang akan diusulkan ke pemerintah kota.
“Yang terpenting, kekurangan guru itu harus tetap dipenuhi agar proses belajar mengajar tidak terganggu,” tegasnya.
Saat ini, sekolah-sekolah masih diperbolehkan mengangkat guru honorer sesuai kebutuhan dan ketersediaan formasi. Pembiayaan gaji guru honorer dilakukan melalui dana BOS nasional maupun BOS daerah, dengan syarat kualifikasi pendidikan sesuai formasi.
“Contohnya di SD, jika ada 12 rombel tetapi guru ASN hanya 10 orang, dua guru tambahan dipenuhi sekolah. Kami utamakan lulusan PGSD yang sudah PPG, agar sertifikasinya bisa dibayarkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A