Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sanggar Wela Kaweng Samarinda Dikukuhkan, Cara Obati Rindu Kampung Halaman, Berhasil Satukan Ratusan Warga

Nasya Rahaya • Kamis, 26 Maret 2026 | 18:44 WIB

SOLID: Pengukuhan Sanggar Wela Kaweng menjadi momentum penting dalam merawat identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
SOLID: Pengukuhan Sanggar Wela Kaweng menjadi momentum penting dalam merawat identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Rindu pada kampung halaman menjelma menjadi energi yang menyatukan ratusan warga di Samarinda. Selama dua hari pada akhir pekan lalu Sabtu–Minggu (21–22/3), Lapangan GP Kalimanis dipadati masyarakat yang larut dalam gemuruh budaya Manggarai, melalui pengukuhan Sanggar Wela Kaweng Samarinda.

Denting gong dan gendang berpadu dengan sorak penonton, menghidupkan suasana. Puncaknya, tarian Caci menjadi magnet utama yang menyedot perhatian. Atraksi itu bukan sekadar tontonan, tetapi representasi jati diri masyarakat Manggarai.

Para penari tampil dengan penuh energi, mengayunkan cambuk dan menangkis dengan perisai. Gerakan mereka menampilkan perpaduan antara keberanian, ketangkasan, dan sportivitas.

Setiap lecutan yang mengenai tubuh lawan tak pernah dibalas dengan amarah. Sebaliknya, para penari mengekspresikannya melalui gerak tarian penuh sukacita (loke), simbol persaudaraan yang kuat dalam tradisi Manggarai. Nilai itu pula yang membuat masyarakat lintas etnis di Samarinda ikut terpukau.

Penasihat Sanggar Wela Kaweng Paulinus Dugis mengaku bangga atas antusiasme masyarakat. Dia menegaskan, jarak bukan alasan untuk melupakan identitas budaya.

“Tarian Caci dalam pengukuhan sanggar itu menunjukkan bahwa rindu akan kampung halaman dan kecintaan pada budaya tetap hidup. Ratusan orang memadati lapangan selama dua hari. Bukti bahwa identitas itu tidak hilang, justru semakin kuat di tanah rantau,” ujarnya.

Pengukuhan itu juga semakin semarak dengan hadirnya penari Caci ternama seperti Nggaro Kakor, Agung dari Bali, serta Jontar dan Peti Kongkar yang datang langsung dari Manggarai. Kehadiran mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar seremoni, pengukuhan Sanggar Wela Kaweng menjadi momentum penting dalam merawat identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Di tengah keberagaman Samarinda sebagai bagian dari Bumi Etam, sanggar ini diharapkan menjadi jembatan antara tradisi Nusa Tenggara Timur dengan kekayaan budaya lokal. Semangat yang lahir dari perhelatan tersebut kini menjadi tekad bersama untuk terus menjaga dan menghidupkan warisan budaya Manggarai di tanah rantau. (*)

Editor : Dwi Restu A
#Sanggar #rindu #samarinda #kampung halaman