SAMARINDA – Kebakaran Pasar Segiri Samarinda yang terjadi pada Kamis (26/3) lalu kembali memunculkan wacana revitalisasi pasar induk tersebut. Pemerintah Kota Samarinda mulai kembali membicarakan konsep penataan ulang, meski hingga kini masih berada pada tahap perencanaan awal.
Kepala Dinas Perdagangan Samarinda Nurrahmani menjelaskan, peristiwa kebakaran menjadi salah satu momentum untuk mendorong kembali rencana revitalisasi yang sebelumnya sudah pernah dibahas. Ia menyebut, Wali Kota Samarinda turut memberi dorongan agar konsep penataan pasar disiapkan lebih matang.
“Memang kemarin sempat dibicarakan dengan Pak Wali. Kami sampaikan bahwa rencana revitalisasi itu tetap ada, konsepnya juga masih dipertahankan,” ujarnya, Minggu (29/3).
Dia menjelaskan, dalam rancangan awal, pembangunan pasar tidak sepenuhnya berbentuk permanen. Pemerintah mempertimbangkan bangunan semi permanen dengan fokus utama pada area los pedagang di bagian tengah pasar. “Bangunannya kemungkinan semi permanen seperti yang pernah kami sampaikan sebelumnya. Fokusnya dulu pada los di bagian tengah, bukan berarti mengabaikan pedagang ruko, tapi prioritasnya di sana,” jelasnya.
Menurut Nurrahmani, hingga saat ini Wali Kota Samarinda masih meminta agar konsep revitalisasi disusun secara sederhana namun efektif. Penekanan utama diarahkan pada fungsi bangunan pasar, bukan pada aspek desain yang terlalu rumit.
“Pak wali mendorong agar konsepnya matang, praktis, dan efisien. Tidak perlu banyak gimik, yang penting fungsinya benar-benar mendukung aktivitas perdagangan,” terangnya.
Dia menambahkan, terkait urusan pembangunan fisik, rencana tersebut nantinya tidak berada di bawah Dinas Perdagangan. Peran Disdag lebih pada penyusunan konsep kebutuhan pasar dan tata letak aktivitas pedagang. “Kalau pembangunan tentu bukan di kami. Kami hanya menyampaikan seperti apa kebutuhan pedagang dan bentuk pasar yang diinginkan,” tambahnya.
Selain penataan fisik, pemerintah juga berencana mengatur kembali pola aktivitas pedagang agar tidak lagi tinggal di area pasar. Hal itu menjadi salah satu pelajaran dari kejadian kebakaran sebelumnya. “Kami akan mengumpulkan para pedagang untuk membuat komitmen bersama agar area pasar tidak lagi ditinggali,” ucapnya.
Ia mengakui sebagian pedagang memang kerap berada di pasar hampir sepanjang waktu karena aktivitas distribusi sayur yang berlangsung tanpa henti. “Perdagangan sayur itu berjalan 24 jam. Barang datang malam, siang sampai sore baru keluar lagi. Aktivitas itu yang membuat mereka akhirnya sering berada di pasar,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan